telusur.co.id- Muslim Rohingya yang telah menyelamatkan diri ke Kabupaten Cox’s Bazar di Bangladesh, hidup dengan kondisi nyaris tanpa harapan.

Wakil Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener, mengungkapkan kepada DK PBB mengenai kunjungannya baru-baru ini ke Myanmar, Bangladesh dan tujuan lain di wilayah itu.

Burgener mengatakan, setelah 18 bulan sejak kerusuhan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, telah memaksa ratusan ribu Muslim Rohingya meninggalkan rumah mereka. Termasuk ke negara tetangga Myanmar, Bangladesh.

“Meskipun Bangladesh dan masyarakat penerima sangat baik hati, kami tak bisa mengharapkan ini akan berlangsung selamanya,” kata wanita pejabat itu, dilansir dari Anadolu, Jumat (1/3/19).

Rencana Tanggap Bersama PBB 2019, yang diluncurkan belum lama ini, menurut dia, bertujuan mendukung para pengungsi dan masyarakat penampung, yang membutuhkan dana mendesak.

Dilanjutkannya, sejumlah langkah prioritas juga perlu dilakukan. Termasuk diakhirinya kerusuhan di Myanmar, difasilitasinya akses tanpa hambatan ke orang yang terpengaruh, ditanganinya sumber ketegangan dan dimungkinkannya pembangunan yang melibatkan semua kalangan secara bersama-sama.

BACA JUGA :  Benarkah Parpol Yang Tak Memenuhi Pasal 235 Ayat 5 Tidak Bisa Ikut Pemilu

Burgene juga mengungkapkan, ketegangan sipil dan militer berlangsung terus di Myanmar sebelum pemilihan umum pada 2020.

Ia mengaku prihatin, bahwa perang sengit dengan Tentara Arakan akan makin mempengaruhi upaya pemulangan sukarela dan bermartabat. Ia juga menyeru kedua pihak agar menjamin perlindungan warga sipil dan melaksanakan kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi kekhawatiran yang bertambah besar mengenai serangan sejak puluhan orang tewas dalam bentrokan antar-masyarakat pada 2012.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, kebanyakan perempuan dan anak-anak, telah meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke dalam wilayah Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan penindasan terhadap masyarakat minoritas Muslim pada Agustus 2017.

BACA JUGA :  PBB Sumut Berang, Awaludin Sibarani : Penguasa Takut Yusril Nyapres..!

Sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 Muslim Rohingya telah tewas oleh pasukan Pemerintah Myanmar, demikian satu laporan yang dikeluarkan oleh Lembaga Pembangunan Internasional Ontario (OIDA).

Lebih dari 34.000 orang Rohingya juga dilemparkan ke dalam kobaran api, sementara lebih dari 114.000 orang lagi dipukuli, kata laporan OIDA, yang berjudul “Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience”.

Sebanyak 18.000 anak perempuan dan perempuan Rohingya diperkosa oleh polisi dan tentara Myanmar dan lebih dari 115.000 rumah orang Rohingya dibakar dan 113.000 lagi dirusak, tambah laporan itu.

PBB telah mendokumentasikan perkosaan massal, pembunuhan, termasuk bayi dan anak kecil, pemukulan secara brutal dan penghilangan yang dilakukan oleh pasukan negara Myanmar.[tp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini