Stanislaus Riyanta

telusur.co.id – Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta menilai, pemilu yang ada saat ini bukan lagi menjadi pesta demokrasi. Tetapi, sudah menjadi perang urat saraf dan perang propaganda antar peserta pemilu.

“Tujuanya untuk menggalang suara, dan untuk menjatuhkan suara lawan,” kata Stanislaus dalam diskusi bertajuk ‘Potensi Delegitimasi Pemilu dan Masa Depan Demokrasi’ di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (6/3/19).

Dia menilai, ada kelompok yang hanya punya dua skenario, yakni skenario menang dan skenario dicurangi. Menurutnya, kelompok ini adalah orang-orang yang tidak siap kalah.

“Makanya kalau dia kalah, maka dia (mengaku) dicurangi. Dan kalau dicurangi, maka harus dilawan dan geruduk KPU. Ini jelas bentuk delegitimasi pemilu,” terangnya.

BACA JUGA :  GMNI dan Kekuatan Masyarakat Sipil Diimbau Konsolidasi Tangkal Intoleransi dan Radikalisme

Dia mengungkapkan, propaganda-propaganda yang dilakukan oleh kelompok ini didukung oleh sejumlah isu, misalnya hoaks tujuh kontainer surat suara sudah tercoblos, mobilisasi WNA dan pergantian kotak suara. 

“Ini sudah dinarasikan secara masif. Dan kalau narasi-narasi ini dilakukan terus menerus, maka akan dipercaya sebagai kebenaran di tengah masyarakat. Kalau begitu, maka KPU dan Bawaslu dianggap gagal selenggarakan pemilu,” ungkapnya.

Dikatakannya, hoaks ini sifatnya merusak logika masyarakat. Tidak peduli salah atau benar, asalkan itu disampaikan oleh pihak yang didukung, maka harus dipercayai.

“Ini jelas merusak budaya kita. Demokrasi dan musyawarah yang jadi adat kita dirusak,” ujarnya.

BACA JUGA :  Surat Suara Tercoblos di Malaysia, Pengamat: Ada Upaya Ciptakan Delegitimasi Pemilu

Karenanya, menurut dia, hal seperti ini harus dicegah. Jika hal itu sudah beredar secara massif, maka langkah yang harus ditempuh adalah penegakkan hukum.

“Siapapun pelaku hoaks harus dihukum dengan tegas. Dan kedua kubu harus bisa bilang bahwa hoaks adalah musuh bersama bukan musuh salah satu kubu. Masih ada waktu sekitar 1 bulan KPU dan Bawaslu untuk memperkuat serta mencegah delegitimasi pemilu,” tandasnya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini