Pengamat intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta. Foto:Istimewa

telusur.co.id – Pengamat intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta mengatakan, aksi bom bunuh diri yang terjadi di Sibolga sebagai rangkaian penangkapan terduga teroris di beberapa tempat di Sumatera, tidak ada hubungan politik dengan Pemilu 2019.

Menurutnya, aksi tersebut murni dilakukan karena ideologi radikal yang diyakini sehingga bunuh diri dianggap sebagai suatu kebenaran dan jalan yang harus dilakukan.

“Orang atau kelompok dengan paham radikal mempunyai keyakinan kuat bahwa kekerasan adalah cara untuk mencapai tujuan. Bahkan keyakinan yang sangat kuat tersebut mampu mendorong mereka untuk melakukan bunuh diri,” kata Stanislaus, Jumat (15/3/19).

Dia menegaskan, ada atau tidak ada peristiwa politik, kelompok radikal tetap melakukan aksi demi mewujudkan tujuannya. Namun yang patut menjadi perhatian adalah kelompok radikal ini bisa memanfaatkan titik rawan yang terjadi pada masa pemilu 2019 sebagai celah untuk melakukan aksinya.

BACA JUGA :  DPR RI : TNI Perangi ISIS di Marawi Harus Persetujuan DPR

“Titik rawan yang bisa terjadi adalah konsentrasi aparat keamanan yang tertuju pada momen Pemilu 2019, sehingga kelompok radikal akan merasa labih longgar atau lebih berani untuk melakukan aksinya,” ungkapnya.

Dia menuturkan, faktor yang bisa menjadi pendorong aksi teror di Indonesia adalah dinamika global terkait kelompok radikal transnasional. Terdesaknya ISIS di Suriah memicu simpatisan ISIS untuk melakukan aksi di daerah atau negara masing-masing.

“Teori balon berlaku dalam fenomena aksi teror. Terdesaknya kelompok radikal di Timur Tengah akan mengembangkan aksi teror di daerah atau negara lain. Bagi nagara yang warganya menjadi pendukung ISIS harus mewaspadai hal ini, terutama jika diketahui ada warganya yang hijrah ke Timur Tengah dan kembali lagi,” paparnya.

Dia mengingatkan, adaptasi pola gerakan kelompok radikal yang sekarang bergerak dalam tingkat keluarga, harus diwaspadai. Gerakan ini akan sulit diketahui karena terjadi pada ruang dan lingkungan yang privat.

BACA JUGA :  Istri Terduga Teroris di Sibolga Ledakkan Diri Setelah Dikepung Tujuh Jam

“Doktrinasi dilakukan kepada anggota keluarga secara intens dan akan lebih cepat karena pengaruh orang yang dipercaya dan harus ditaati,” jelasnya.

Karenanya, dia mengimbau agar masyarakat meningkatkan radar sosialnya untuk mendeteksi dan mencegah sejak dini adanya keluarga-keluarga radikal yang berpotensi menjadi pelaku teror. Aksi bom bunuh diri di Surabaya (Mei 2018) dan bom bunuh diri di Sibolga (Maret 2019) menunjukkan bahwa radikalisme pada keluarga sudah terjadi di Indonesia dan membahayakan.

“Aksi teror lone wolf juga patut diwaspadai. Pelaku teror lone wolf sulit dideteksi karena tidak berada dalam kelompok sehingga tidak memunculkan komunikasi dan interaksi yang bisa dipantau. Potensi aksi teror lone wolf ini paling memungkinkan dideteksi dan dicegah dini oleh keluarga atau orang terdekat,” tandasnya.[asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini