Dr. Margarito Kamis/Istimewa


Oleh : Margarito Kamis

(Doktor HTN, Staf Pengajar FH Univ Khairun Ternate)

Pak Prabowo, pensiunan Letnan Jenderal TNI Angkatan Darat, yang
menjadi capres kali ini, telah berkampanye secara terbuka. Untuk kesekian kalinya ketika jumpa masyarakat secara terbuka, Prabowo terang-terangan menyatakan niatnya menjemput Habib Rizieq, ustad yang punya kompetensi lebih dari memadai dalam wawasan NKRI dan Pancasila ini.

Dalam kampanyenya di Bogor tanggal 29Maret,Prabowokembalimenyatakan kehendaknya itu. Terus terang, begitu tipikalnya, Prabowo menyatakan akan menjemput Habib Rizieq, yang saat ini bermukim, untuk sementara di Makkah, kota suci Ummat Islam sejagat ini.

Untuk tujuan itu,Prabowo meminta, sekali lagi, terang-terangan kepada pemilih yang hadir, membantu memenangkan dirinya. Kemenangan dirinya adalah prasyarat non eskepsional, yang memungkinkan dirinya menjemput Habib Rizieq.

Kesamaan Relatif

Habib Rizieq, pria terhormat ini, dengan wawasan keislamannya yang
jauh dari radikal harus meninggalkan, berhijrah dari Indonesia, negeri
kelahirannya ini ke Makkah, karena sejumlah hal. Sejumlah hal itu adalah tuduhan tindak pidana, tak senonoh, yang memukul harkat dan martabatnya.

Tuduhan itu, terlihat tak berujung, karena banyaknya. Ia jelas terpukul, bernuansa telak, dengan hukum yang minus rasionalitas itu.
Pria ini, Habib Rizieq adalah penantang paling cerdas, paling gesit, tak
tertaklukan, berenergi tanpa batas terhadap Basuki Cahaya Purnama, Ahok sapaan umumnya, ketika masih menjadi gubernur DKI. Tampil laksana lokomotif berkekuatan ekstra yang mampu menarik berapapun jumlah gerbong, memungkinkan demonstrasi heboh sebanyak dua kali. Demonstrasi heboh itu dikenal dengan sebutan 411, sebelum akhirnya bermuara pada Monas.

Demonstrasi di Monas dikenal luas dengan sebutan 212, terdamai,
dan terbersih di dunia.
Belum berakhir, pria murah hati yang rasional ini, entah bagaimana,
mampu memicu apa yang hari-hari ini dikenal dengan Ijtima Ulama, sebuah pertemuan para ulama, sekalipun sebagian.

Pertemuan ini, hebatnya, berhasil menjadi energi berlipat ganda dalam mengkristalkan resonansi Prabowo, pria berhati lembut ini menjadi capres saat ini, capres tipikal ijtima ulama.

Tak bisa dibeli, itulah Bib Rizieq. Tak tega melihat ketidakadilan
merajalela, itu pula Bib ini. Tipikal ini, suka atau tidak, ditemukan juga pada diri Prabowo, capres yang Bib sepenuh hati memberi dukungannya.

Kesamaan relatif ini, untuk semua alasan yang bisa dicari secara sadar, sulit ditolak. Kesamaan ini nyata. Nyata karena, Prabowo misalnya mengasuh ribuan anak-anak Papua, yang selama ini, sesuai tabiatnya, tak digembar-gemborkan.
Betul Bib Rizieq adalah Bib Rizieq dan Prabowo adalah Prabowo, tetapi
keduanya terhubung dengan impian manis melihat keadilan dan kemakmuran nyata hidup di Indonesia, dipersembahkan untuk semua, tanpa kecuali.

Berada dan hidup di Makkah, tanah suci ummat Islam sedunia,
nampaknya tak cukup mematikan rindu Habib ini untuk kembali hidup di Indonesia, tanah kelahirannya. Tapi urusan hukum, sebuah urusan khas struktural, dengan caranya yang invasif telah melambungkan tuduhan, cukup memukul kehormatannya, sedang menanti. Disitu masalahnya. Ini masalah pelik, yang dihadapi Habib konsisten ini.

Jalan Keadilan

Menariknya kenyataan itu sama sekali tidak menjadi, apalagi
memompa hasrat Prabowo untuk, misalnya mencaci maki hukum yang
dikenakan pada Habib, yang sulit, dengan alasan apapun, untuk tak
mengatakan memukul martabatnya itu. Sebagai pria rasional yang pernah bersentuhan dengan kekuasaan pada zamannya, Prabowo mengerti persoalan hukum memiliki resonansi struktural.

Karena beresonansi struktural, maka pemecahannya juga memerlukan
sentuhan struktural. Pada titik inilah hasratnya untuk mengembalikan Habib Rizieq ke Indonesia, tentu setelah dirinya dinyatakan sebagai pemenang pilpres ini, rasional dalam semua aspek. Pada titik itu pula terlihat Prabowo, entah disadari atau tidak, hendak memastikan bahwa demokrasi, yang salah satu kaidahnya adalah hukum tidak bisa digunakan memukul lawan.

Bangsa ini sering dibanggakan bangsa asing atas capaian
demokrasinya, memiliki sumberdaya top dan akan selalu berpotensi jadi hebat. Demokrasi top, sumberdaya oke dan akan selalu oke, tetapi bahan makanan di impor, alusista tak hebat dan pertahanan payah. Beralasan karena itu Prabowo menyatakan pujian-pujian itu bernada merendahkan,mengejek, setidaknya tidak terlalu dianggap. Identifikasi ini pas. Demokrasi hebat tapi hukum memble. Itu konyol namanya.

Jendela keadilan, hukum dan politik, karena itu harus dibuka. Sinar
keadilan haru merasuk menerangi kehidupan nasional, dalam semua aspek.
Dalam kerangka itu, dan ini menarik, Prabowo, pria substansialis dalam bingkai idiologi Pancasila, tidak memompa, mengenergizer k enyataan-kenyataan pahit itu dengan merendahkan pesaing.
Jemput Habib Rizieq adalah cara Prabowo memastikan jendela keadilan
terbuka. Itu saja. Ia tidak melambungkan secara invasif kenyataan-kenyataanpahit itu, dan secara sengaja ditujukan kepada penguasa saat ini. Tidak.

Sama sekali tak terlihat identifikasi darinya terhadap kenyataan-kenyataan itu sebagai refleksi adanya prasangka terhadap Ulama, tentu yang tak searah dengan penguasa saat ini, dan memompanya dengan analisis kanan, menjadi pemicu ketidakpercayaan terhadap pemerintahan ini.

Gambaran berkekuatan empiris yang dinyatakan dalam debat terakhir
tentang bocornya surat, yang memungkinkan aparatur pemerintah
mengarahkan orang memilih capres tertentu dalam pemilihan presdien, bukan palu godam delegitimasi pemerintahan ini. Seperti terlihat dalam substansinya, ada hasrat tak tertahankan darinya melihat pemerintahan ini kredibel, dipercaya orang, patuh pada kaidah demokrasi.

Cukup signifikan Prabowo tidak menjadikan kenyataan hukum seburuk
itu, sebagai palu godam terhadap kredibilitas, terlepas dari apapun defenisi orang atas konsep kredibilitas itu, terhadap aparatur penegak hukum. Tidak.
Ia menempuh jalan beradab, jalan yang terukur dalam timbangan keadilan.
Jalan keadilan, tak pernah, dalam tradisi apapun, berbentuk jalan caci maki.

Jalan keadilan adalah jalan adab, jalan ternalar dalam lintasan nalar
dan suara hati. Jalan keadilan, untuk sebagian adalah jalan struktural. Jalan ini adalah jalan kaidah, jalan dalam hukum yang membenarkan kebijakan- kebijakan khas keadilan. Jalan ini memungkinkan keperpihakan, sejauh disandarkan pada ketimpangan kenyataan, untuk memulihkan ketimpangan itu.

Jalan ini bukan jalan khas Benthamisme, (Jeremy Bentham) abad ke-17dengan wawasan utilitariannya. Jalan Bentahamisme adalah jalan hukum yang legitim diambil dan diterima untuk memecahkan semua urusan, sejauh memberi manfaat pada orang terbanyak, bukan semua orang. Padahal adil tak bisa hanya untuk sebagian dan tidak untuk sebagian. Itu bukan adil. Itu diskriminasi yang dilegitimasi dan dilegalkan.

Jalan ini bukan jalan radikalisasi, jalan antagonistik antarsesama. Jalan
ini bukan jalan khilafah, sebuah streotipe delusif yang hingga saat ini masih dialamatkan ke pendukung-pendukung Prabowo. Jalan ini terbentang dalam kemenangan Prabowo-Sandi. Kemenangan keduanya adalah prasyarat, satu-satunya, Habib Rizieq dipulangkan dari Makkah ke Indonesia.***[Gus/telusur]

Jakarta, 31 Maret 2019

Like :

1 KOMENTAR

  1. […] Jalan ini bukan jalan radikalisasi, jalan antagonistik antarsesama. Jalan ini bukan jalan khilafah, sebuah streotipe delusif yang hingga saat ini masih dialamatkan ke pendukung-pendukung Prabowo. Jalan ini terbentang dalam kemenangan Prabowo-Sandi. Kemenangan keduanya adalah prasyarat, satu-satunya, Habib Rizieq dipulangkan dari Makkah ke Indonesia.***[Gus/telusur] […]

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini