Margarito Kamis/Istimewa

Oleh : Margarito Kamis

(Doktor HTN, Staf Pengajar FH Univ Khairun Ternate)

Prabowo-Sandi, pasangan capres-cawapres dalam pilpres ini, terlihat sangat fokus menempatkan rakyat, bukan kepala daerah, sebagai ujung tombaknya. Dua pria rendah hati, lugas dan selalu riang setiap kali jumpa masyarakat, sejauh ini, hanya mampu mengagungkan rakyat, bukan pejabat dan orang-orang, yang dianggap elit negeri ini.

Selalu begitu, dimanapun setiap kali jumpa rakyat, kedua pria yang dinilai secara tidak tepat tak memiliki pengalaman memerintah ini, terus bicara tentang masalah nyata yang dihadapi ibu-ibu, mak-mak, kata Sandi.  Mahalnya tarif listrik, mahalnya harga sembako, kekayaan alam yang mengalir keluar negeri, petani tercekik, pupuk yang selain selangit harganya, juga susah didapat adalah sebagian hal yang berulangkali dinyatakan Prabowo-Sandi.

Dititian Terjal

Itulah hal-hal, yang hendak diubah. Tepat. Melepaskan derita orangadalah hal hebat. Dalam timbangan agama, itulah yang mesti dituju semua orang. Itu hal baik, memberatkan timbangan dititian terjal. Itu disukai Nabi Muhammad Sallalhu alaihi wasallam. Manusia mana, maaf yang beragama Islam, yang sudi, rela tak mendapat safaat dari Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam, kelak disuatu hari nanti?

Pemimpin hianat, yang memanipulasi kepemimpinannya, menggunakan atau membiarkan kekuasaannya menerjang orang-orang kecil, rakyat, kata orang bijak, tak bisa berada disisi dekat Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam, kelak pada waktu yang telah ditetapkan. Itu karena dusta, hianat dan sejenisnya meredupkan cahaya menuju saaftnya.   

Mungkin itu sebabnya Muhammad Alfatih, sang penakluk berhati lembut pada orang kecil ini, tak mampu menggunakan, memakai pakaian berbahan  lembut kala berada disinggasana kekuasaan. Padahal pakaian berbahan baku lembut dirasa tak cukup nyaman kala dirinya belum memangku kekuasaan. Tetapi tatkala dirinya memangku kekuasaan, pakaian dengan bahan sekasar apapun, bahkan dari karung sekalipun, terasa terlalu lembut buat dirinya. Hebat. Top.

Pemimpin, karena tanggung jawab yang disandangnya, mesti membawa dirinya pada kesadaran betapa dirinya senantiasa berada dititian terjal, kini dan esok. Kejujuran, acap dianggap sebagai pangkal keihlasan, syukur, dan sabar,  semestinya harus terus memompa sang pemimpin untuk tak pernah lelah menghisap setiap tindakannya. Timbanglah tindakanmu dengan timbangan akal terdidik, agar tindakan-tindakan pemerintahanmu selalu melahirkan senyum syukur pada rakyatmu.

BACA JUGA :  Dukungan Ke Prabowo Mengalir Deras, Ex Ketua Kohati Badko HMI Sulsebar Didaulat Jubir Prabowo

Pemimpim yang berenang dilautan rahasia-rahasia alam ini, layaknya, sebut saja Muhammad Alfatih, percayalah, tak bakal mengeluh. Pemimpin tipikal ini tak bakal mengatakan dengan gairah kekesalan yang hebat dihadapan rakyat, bahwa dirinya bertahun-tahun terlilit fitnah mematikan. Tidak. Itu bukan pemimpin.

Woodrow Wilson, presiden Amerika Serikat ke-28, yang pemerintahannya mengakhiri perang dunia pertama, juga pencetus Liga Bangsa-Bangsa untuk menghentikan gejolak dunia, membuka pintu kemerdekaan bagi banyak negara, baru mengeluh setelah dirinya meninggalkan kekuasaan. Ia, dalam keluhannya, menyatakan tak banyak orang tahu bahwa ia tak cukup bebas menyelenggarakan kekuasaannya. Ada kekuatan tak terlihat, katanya,  yang dengan caranya sendiri, menentukan jalannya negara.        

Kecerdasan Rakyat Menang

Andrew Jackson, presiden Amerika ke-7, seorang pahlawan militer, juru bicara konstituen massa petani, buruh dan pengrajin, yang tidak memercayai pemerintah Federal yang berorientasi komersial, terlihat dimiliki Prabowo. Tak pernah lelah, sejauh ini, ia bicara tentang nasib orang petani kecil, buruh, guru honorer, petuga skesehatan. Orang-orang ini, teridentifikasi sebagai manusia-manusia yang terhimpit dalam gegap gempita korporatisasi negara. Elit, katanya berkali-kali dalam berbagai kesempatan, mati hati.    

Prabowo-Sandi, karena itu dan hal lain yang akan disebut berikut ini, cukup beralasan untuk mengatakan tahu persyaratan menjadi pemimpin. Seiring waktu yang terus terputar, tak sekalipun, sejauh ini, Keduanya menyatakan kejengkelannya atas fitnah yang ditujukan kepada keduanya. Tidak. Terlihat, dalam batas yang dapat diidentifikasi, Keduanya berlindung dalam benteng kesabaran. Keduanya terlihat tak menentukan batas sabar. Keduanya membiarkan sabar terus mengalir, memeluk dan membawanya kemanapun.

Entah bagaimana dirinya memupuk dan membesarkan kesabaran dan ketulusan, Prabowo cukup berani, dihadapan ribuan masa dalam kampanyenya di Karebosi Makassar, terang-terangan menyatakan tidak ingin menjadi orang terhina di dunia ini. Tak menyebut dirinya pemimpin sejati, ia hanya mengatakan tidak mau menghianati mak-mak yang telah begitu awal datang ke Karebosi, berpanas-pans pula. Masa ibu-ibu berpanas-panasan, dan saya kelak, berhianat? Saya tidak mau jadi orang paling terhina di dunia ini. Top.  

BACA JUGA :  Sebanyak 110 Komunitas Relawan Sediakan Makanan Gratis di Kampanye Akbar Prabowo

Prabowo, untuk alasan apapun bukan seorang alim, ilmuan Islam. Tak secuil sikap yang memperlihatkan ia memaksakan diri dalam urusan keagamaan Islam untuk dapat dinilai sebagai orang alim. Prabowo hanya bisa  bersikap apa adanya, tak mengada-ada untuk sekadar dapat dinilai sebagai orang alim. Tak mengarang-ngarang sikap keagamaan untuk dijadikan pemanis buat menarik Ummat Islam, kalau tidak  memilih, menyukai dirinya. Tidak memaksakan diri menjadi Imam Shalat. Ini sikap luhur nan jujur.

Tak membagi-bagi hadiah, uang dan mengadakan pesta untuk menarik simpati rakyat, sejauh ini, terlihat cukup orisinil. Malah dalam beberapa pertemuan, Prabowo secara lugas meminta bantuan rakyat untuk bersama-sama dirinya memenangkan pertarungan ini. Sandi, pria murah senyum disisi lain, terus-menerus menerima sumbangan, ala kadarnya, dari Papua Barat, Dumai dan lainnya. Bukan soal nilai, begitu sering kalimat itu mengalir lembut dari bapak-bapak dan ibu-ibu yang memberikan uang itu, tetapi keihlasannya. Masa Allah. Mengagumkan.

Rakyat, katanya dalam kampanye di Karebosi Makassar, sudah cerdas. Tak bisa ditipu, tak bisa dibodoh-bodohi lagi. Kecuali yang sedang tak sehat, tak mungkin pernyataan itu diremehkan. Rakyat Indonesia memang bukan rakyat Amerika, tetapi tidak sulit untuk tahu betapa buruknya kenyataan hukum, ekonomi dan kehidupan sosial keagamaan saat ini. Semuanya, dihari-hari ini tidak indah seindah gambaran retoris politisi kebanyakan, yang acap konyol dalam menggambarkan keadaan nyata.

Prabowo-Sandi, dengan pernyataan-pernyataan tentang banyak hal yang hendak mensejahterakan, memakmurkan masyarakat, dalam semangat keadilan khas Pancasila, bukan liberalisme, yang tahu betapa buruknya postur keadilan dalam semua aspek ini, memang layak disambut kemenangan. Siapapun harus mengerti bahwa dari waktu ke waktu, terutama dalam masyakarat modern, sering diasosiasikan dengan masyarakat industri, menempatah digaris terdepan, berperan luas, deteil menghadirkan kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan.  

Perintah yang parah, tidak pernah lain sebabnya selain pemimpin yang parah. Pemerintah yang hebat, adil, tidak pernah lain sebabnya selain pemimpinnya top. Pemimpin top adalah pemimpin layaknya, ambil misalnya Muahammad Alfatih, sang penakluk hebat itu. Prabowo memang bukan Muhammad Alfatih, tetapi komitmennya, sejauh yang dapat diidentifikasi, memang pemimpin. Kepekaannya terhadap orang kecil jelas. Kepekaan terhadap harkat dan martabat manusia, sama jelasnya.

Tanggal 17 April, karena itu, kata seorang teman, sedang mendekat membawa kemenangan, dengan gairah yang hebat menjemput Prabowo-Sandi. Dan saya hanya bisa bilang, Insya Allah. Pemilu memang penuh tipuan, trik-trik kotor, tetapi tidakkah begitu banyak petahana tumbang diakhir jabatan pertama? Insya Allah, putaran pemilu membawa rakyat menjemput Prabowo-Sandi  dengan kemenangan khas rakyat cerdas. ***/Gustelusur.

Jakarta, 25 Maret 2019    

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini