Margarito Kamis/Istimewa

Prabowo, sang capres yang berpasangan dengan Sandiaga Uno, anak muda santun, yang tutur katanya selalu lembut ini, seperti didapati dalam kampanye ini, dengan rakyat dari waktu ke waktu memberi dukungan otentik kepada keduanya menjadi presiden periode 2019-2024, masih saja diterpa tuduhan tak sedap. Tuduhannya, sebagian ya itu-itu saja, persis kaset rusak yang dipaksakan mengeluarkan bunyi.

Terbakar oleh, ketidaksukaan tak beralasan dibalik serangan tak berkelas, yang jauh dari valid, berputar-putar pada hal yang itu-itu saja. Pemarah, kemauannya tak dapat ditolak, pelanggar hak asasi manusia, dan orang berduit yang jahat merupakan senjata mematikan, mengisolasi kebaikan-kebaikan bawaannya yang tersembunyi, yang belakangan muncul satu demi satu. Tetapi, tuduhan rendahan itu, nyatanya terlihat laksana kerupuk.

Tipikal Orang Besar

Prabowo, dalam kenyataannya cukup jelas, terlihat tak sekalipun melayani tuduhan tipikal itu. Diamnya terhadap semua tuduhan itu, nampaknya menandai sikap dan penilaiannya tentang pemimpin. Pemimpin, katanya mesti memiliki hati, sebuah diksi yang mewakili pakem pemimpin harus memnadu tindak-tanduknya dengan hati. Kata orang bijak kala hati terjaga, mulutmupun ikut terjaga. Kala hati dan mulut berpadu dalam ikhtiar, niscaya ketulusan mengikuti tindakanmu.

Seolah tak pernah ada tuduhan pada dirinya, ia sejauh ini tak pernah, sekali lagi merespon, apalagi merespons dengan nuansa menyerang. Tidak. Ia seolah hendak memberi pesan betapa hatinya tak hitam. Ia seperti tahu betapa hati yang hitam, tentu tak bening, tak dapat membuat isi kepalanya bening. Tak sepatah kata pun, sejauh ini, keluar dari mulutnya mengomentari, maaf, Romi Ketua Umum PPP, yang ditetapkan KPK menajdi terangkas. Padahal Romi, dengan diksi khasnya, pernah membuat pernyataan yang dapat merugikan perjalanan pertempuran Prabowo dalam pilpres ini.

Laksana orang besar, yang selalu begitu, sebagaimana sejarah menceritakan kebenarannya sendiri, selalu memiliki kemampuan berpikir dan menilai segala sesuatu dengan hati dan otak yang bening. Manusia tipikal ini tidak bakal, sekalipun diminta dengan segala iming-iming mengiurkan, mampu memilih kata-kata kotor, hinaan, untuk misalnya sekadar menggunjing orang. Orang besar tahu menyibukan diri dengan fitnah dan kata-kata kotor diruang terbuka, sama dengan melakukan pekerjaan rendahan.

Memfitnah, menghina, menggunjing orang, dalam tradisi apapun dan sampai kapanpun tidak bakal bisa dikualfikasi sebagai pekerjaan berkelas. Ini pekerjaan rendah, yang hanya bisa dikerjakan orang bermoral pas-pasan, untuk tak mengatakan tak bermoral. Menyibukan, setidaknya membicarakan, dalam nada menggunjingkan, membuka aib orang adalah pekerjaan yang melengahkan dan menempatkan dirinya dalam kubangan kotor moral.

BACA JUGA :  Gerindra Yakin Jokowi Cuma Satu Periode

Orang besar tahu cara berkelas dalam meniti jalan terjal menuju, meraih kekuasaan. Orang besar tidak memilih jalan suap, – bagi-bagi uang, naik volume dan jangkauan bantuan sosial- menaikan gaji aparaturnya, mempercepat tunjangan hari lebaran ditengah pertempuruan dirinya menunju kursi kekuasaan. Tidak. Kehebatan kekuasaan tidak bakal membuatakan mereka, membuat mereka melupakan dan mencampakan ahlak.

Orang besar tak menaruh dan menjadikannya sambisi meraih kekuasaan untuk mengghalalkan semua cara yang bisa. Al-Ghazali, Ulama hebat ini, suatu saat pernah memberi nasihat pada Sultan Sanjar Saljuqi. Dalam nasihat kepada Sang Sultan, Al-Ghazali mengatakan kerajaan langit itu sedemikian luasnya sehingga seluruh dunia ini tampak sebagai suatu butir debu saja bila dibandingkan dengannya. Moga-moga Yang Mulia berkenaan, nasihat beliau selanjutnya, Saya menyadari bahwa seorang ambisius sulit sekali untuk menjalani suatu kehidupan yang saleh.

Karena saya, begitu Ulama hebat ini melanjutkan nasihatnya, dapati anda sebagai seorang yang amat jujur dan hati-hati, maka saya berharap anda bisa memperlakukan hal ini dengan kebijakan dan kebaikan untuk diri Anda sendiri. Al Ghazali lalu melengkapi nasihatnya dengan satu sabda Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Sabda itu berisi “Sehari yang dihabiskan oleh seorang raja yang taqwa untuk menyelenggarakan keadilan, setara dengan enam puluh tahun yang dihabiskan oleh seorang suci untuk ibadah dan shalat.

Berkelas

Abraham Lincoln, pria yang mengakhiri perang saudara, Utara – Selatan –Amerika 1865, perang yang gejalanya telah terlihat sejak tahun 1828 itu adalah pria hebat. Dalam kehebatanya yang dikagumi hingga sekarang, Lincoln pernah menemukan dirinya suatu hari dalam periode awal pemerintahannya, dan dalam usaha mengakhiri perang itu dituduh sebagai pria “idiot.” Tidak itu saja, Lincoln, pria hebat ini juga pernah dituduh, setidaknya dinilai, tentu secara salah oleh seorang yang reputasi kemiliterannya dihormati Lincoln, tetapi memiliki ambisi besar menjadi Kepala Staf Gabungan dalam Kabinetnya, menuduh Lincoln sebagai pria yang tidak lebih dari babon.

Khas pria berkelas, Lincoln tidak menggunakan tuduhan itu sebagai alasan menolak promosi sang penghina. Lincoln menyingkirkannya karena menemukan hal tepat pada diri seorang perwira muda, yang reputasi kemiliteran dan kecemerlangan perencanaannya diyakini akan membuka jalan pencapaian berkelas atas usahanya mengakhiri perang itu. Lincoln, seperti dicatat sejarah memang mencurahkan seluruh pikirannya untuk menciptakan perdamaian dalam segala ukuran dan sekuat tenaga pula menghindari perang.

BACA JUGA :  GNPF Ulama Tak Persoalkan Prabowo Gaet Sandiaga

Orang besar, selalu begitu, berhati besar. Mereka, selalu begitu, tak terbakar amarah atas hinaan-hinaan terhadap diri mereka, tak terbuai ambisi sehingga memanggungkan kebaikan-kebaikan tersembunyinya. Membantu orang sekolah, membuat hal baik utuk keagamaan, disimpan hanya untuk dirinya sendiri. Riya tidak bakal mereka gunakan orang berkelas sebagai kemudi sikap dan tindakannya.

Kebijaksanaanlah yang menjadi kemudi, tuntunan atas tindak-tanduk mereka. Kebijaksanaanlah yang mereka gunakan dalam memberi bentuk atas keadilan politik dan ekonomi. Harkat dan martabat orang rendahan, siapapun mereka, apapun agama dan sukunya, yang selalu menjadi bahan mereka mengasah rindu terbesar dan merancang sikap dan tindakan.

Pak Prabowo tetaplah begitu, dan selalulah begitu; rendah hati, tegas dan bicara apa adanya. Ribuan orang yang sangat bergairah, rela berpanas-panasan, dengan biaya sendiri mendatangi dan menjemputmu di Yogya, Taksikmalaya, Garut, Cianjur, Batam, Pekanbaru, Bengkulu, Jambi dan lainnya yang tidak mungkin disebut satu demi satu pada kesempatan ini, jelas merupakan refleksi kerinduan mereka atas pemimpin tipikal itu.

Tak usahlah mengeksploitasi tindakan seorang Ibu di Lampung yang bersimpuh di kaki Pak Jokowi, memberitahukan derita yang dialaminya, karena ganti rugi yang dialaminya, bukan ganti untung khas ucapan Pak Jokowi. Tak usahlah megeksploitasi bantahan Pak Mahatir Muhammad, pemimpin Malaysia paling top ini, dalam kasus bebas Mba Aisa. Kebenaran tak pernah dapat ditandingi.

Kebenaran selalu memiliki cara kodrati muncul, menghampiri dan menyapa semua orang pada waktunya. Beritahukan kepada siapapun yang rajin menggunjing dan menghinamu bahwa pesan-pesan konstitusi, pada level tertentu adalah pesan yang berasal dari hati yang bening. Sebening apapun pesan konstitusi, pesan itu meminta orang-orang berhati bening membuatnya bermakna secara praktis. Itulah makna pernyataan Woodrow Wilson, presiden Amerika yang suatu waktu pernah menyatakan sehebat apapun konstitusi sebuah bangsa, tetap saja memerlukan orang hebat untuk merealisasikannya. Pesan yang mirip juga dikemukakan Dwight H. Eisenhower, jenderal hebat ini, kala menjadi presiden, yang dalam pemerintahannya muncul Marshal plan.

Orang kecil melihat hal kecil, dan orang besar melihat dan memikirkan hal besar. Jangan bicara governance, jangan bicara rule of law, jangan bicara akuntabilitas, jangan bicara habes corpus lidahmu gemar menghina dan bergunjing. Mengapa? Dalam sejarahnya soal-soal ini muncul mewakili kerinduan tak berujung atas kemilaunya harkat dan martabat manusia, yang kala itu tenggelam, tergilas oleh kecongkakan pemimpin. Beruntunglah Pak Prabowo anda tak mampu menghina orang. Ini sikap dan moral berkelas.

Penulis : Margarito Kamis (Doktor HTN, Staf Pengajar FH. Univ. Khairun Ternate)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini