Pengrajin Tenun Ulos di kediamannya di Kampung Lumban Soit, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Kamis (21/3/2019). Foto:Bambang Tri P/telusur.co.id

telusur.co.id – Mama Tika ,Mama Junior dan Mama Sondak sosok pengrajin tenun ulos khas Sumatera Utara turun temurun dari orang tuanya sejak kecil di Kampung Lumban Soit, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.

Hal itu disampaikan mama Sondak saat wartawan telusur.co.id menyempatkan mampir di kampung halamannya. Kamis (21/3/2019). Mama Sondak menceritakan bahwa membuat tenun ulos ini diajarkan orang tuanya sejak Sekolah Dasar (SD). “Jadi sejak SD saya sudah diajarkan sama Mama dulu. Turun temurun, ya karena tuntutan ekonomi jadi untuk bantu-bantu keluarga. Sampai sekarang,” ujarnya yang duduk beralaskan kayu sambil menopang alat tenunan tersebut.

Dari hasil menenun Ulos tersebut bisa membantu penghasilan suami yang sehari sebagai petani dan dapat menyekolahkan anak. Sementara untuk membuat tenun ulos disini menggunakan alat tenun tradisional yang namanya ” Paru Gasan “, alat tenun disini bukan mesin. Untuk bahan – bahannya, benang yang dibelinya di kawasan Kaban Jahe, Tanah Karo. “Benangnya beli dari Toke,” katanya.

Harga benangnya dibeli per kilo seharga Rp 240 ribu. Benang beraneka warna itu dalam seatu minggu dapat membuat 2 tenun ulos. Setelah jadi, harganya untuk 1 tenun ulos dihargai Rp 300 ribu – Rp. 370 ribu. “Modalnya bisa Rp 80 ribu,” terangnya. Bambang Tri P

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini