Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong Un. Foto: Istimewa

telusur.co.id- Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sudah kembali ke negaranya usai melakukan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, di Hanoi, Vietnam.

Ketika balik ke AS, permasalahan politik masih menggantung di kepalanya. Namun, Ia ingin menunjukkan kemajuan terkait kebijakan luar negerinya, khususnya soal program senjata nuklir Pyongyang, dari para pendahulunya.

Usai pertemuan yang banyak digembar-gemborkan dengan Kim bubar dalam ketidaksepakatan atas sanksi terkait dengan program senjata nuklir, kesaksian dari mantan pengacaranya, Michael Cohen, menuduhnya melanggar hukum saat di kantor.

Tak hanya itu, Trump juga menghadapi permasalahan lainnya: pembicaraan sensitif dengan Cina mengenai kesepakatan perdagangan, krisis yang melambat di Venezuela, ketegangan antara India dan Pakistan dan upaya di Kongres untuk “membunuh” deklarasi daruratnya yang bertujuan mendapatkan dana untuk tembok perbatasan Meksiko.

Penasihat Khusus AS, Robert Mueller juga mengakhiri penyelidikannya atas campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden 2016.

Sebelum Trump pergi ke Vietnam, ia secara pribadi mengeluh bahwa Demokrat akan melanjutkan dengan kesaksian Cohen, yakni melanggar aturan tidak tertulis terhadap penyerangan presiden saat berada di luar negeri. Dia juga berharap laporan Mueller selesai.

BACA JUGA :  Di Sidang DK PBB, Menlu RI Banggakan Kegemilangan Mayor TNI Gembong

“Dia sangat tidak senang bahwa mereka mengadakan dengar pendapat saat dia berada di luar negeri,” kata seorang yang hadir dan meminta tidak disebutkan namanya, dilansir dari Reuters, Jumat (1/3/19).

“Dia juga sangat tidak senang bahwa penyelidikan Mueller belum selesai sebelum dia pergi. Dia merasa ada awan yang menggantung di atasnya.”

Gedung Putih telah memasukkan agenda upacara penandatanganan kesepakatan Trump di Hanoi. Kemudian, secara tiba-tiba membatalkannya. Sekretaris Negara Trump, Mike Pompeo mengeluh tentang wartawan yang terobsesi dengan apa yang ia coba tolak sebagai “proses” dan mengatakan mereka “secara radikal tidak mendapat informasi.”

“Anda seharusnya tidak menutup mulut pada hal-hal seperti itu,” kata Pompeo.

Ketika pertemuan puncak berlangsung, Trump terus mengikuti perkembangan terbaru dengan kesaksian Cohen dari kamarnya di sebuah hotel di Hanoi, meskipun perbedaan waktu AS-Hanoi 12 jam.

Kesimpulan di antara lingkaran dalam Trump adalah bahwa presiden keluar dari minggu ini baik-baik saja. Merasa, tidak ada banyak hal baru dalam kesaksian Cohen dan Trump mendapatkan pujian karena meninggalkan kesepakatan yang berpotensi buruk dengan Korea Utara.

BACA JUGA :  Indonesia Kecam Korea Utara, Bermain Api Dan Membakar Perdamaian

“Tidak ada kejutan minggu ini,” kata Christopher Ruddy, seorang mogul media konservatif dan teman dekat presiden.

“Kami tahu Korea Utara sangat sulit untuk ditembus dan Michael Cohen akan mengatakan banyak hal buruk. Pada akhirnya saya tidak berpikir itu mengubah iklim politik untuk Presiden Trump, “kata Ruddy kepada Reuters.

Tetapi kesaksian Cohen menimbulkan pertanyaan di antara sekutu Trump tentang kemampuan kampanye pemilihannya kembali untuk mengatur respons yang tepat.

“Di mana pembelaan presiden?” Mantan Gubernur New Jersey Chris Christie, seorang teman Trump, mengatakan pada program This Week ABC pada hari Rabu.

Trump akan ada audiensi yang bersahabat pada hari Sabtu ketika ia berpidato di pertemuan tahunan Konferensi Tindakan Politik Konservatif di pinggiran kota Maryland.

Pada acara CPAC pada hari Kamis, Ketua Komite Nasional Republik Ronna McDaniel, dengan cepat membela Trump atas KTT Vietnam.

“Dia berjalan dengan benar karena dia mengatakan kita tidak akan mengambil sanksi jika Anda tidak akan de-nuklearisasi,” katanya untuk tepuk tangan.[tp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini