Ahmad Yani/Istimewa

Dr. Ahmad Yani, SH. MH.

Membungkam kritik itu ciri khas dari kekuasaan diktator. Didalamnya hanya ada pemujaan buta terhadap kekuasaan, tanpa interupsi.

Ada ilmuwan budak istana, ada pakar melantunkan pujian, ada aktivis membela membabi buta. Dalam percakapan publik yang tercecer hanya yal-yel.

Bangsa yang dipimpin oleh kekuasaan diktator, akan menjadi bangsa yang miskin narasi, duafa intelektual dan tidak memiliki cara pandang yang majemuk.

Tidak heran, yang terjadi hanyalah percakapan antara “tuan” dan hamba. Bentuk percakapannya, raja bersabda, hamba menyembah. Berakhirlah akal sehat, mulailah akal bulus.

Tradisi antara kawula dan raja, sedang diusahakan untuk bangkit setelah ditentang oleh akal merdeka. Ada ribuan tumbal yang berserakan untuk menghidupkan kemerdekaan itu.

Fenomena menghidupkan kembali sembah menyembah kekuasaan itu sedang diupayakan. Disebuah negara demokrasi terbesar ketiga dunia, nama nya Indonesia.

Ada seorang Pemimpin katanya dari golongan “Orang kecil” tapi pikirannya feodal. Dia memimpin dengan pikiran feodalisme. Dia ingin disembah layaknya seorang diktator.

Semua perbedaan dihadang, semua diskusi dilarang, semua tokoh dipersekusi, semua perbedaan ingin dileburkan menjadi pujian hanya untuk menambah durasi kekuasaan.

Ia ingin dipuji. Dalam kegagalannya membangun bangsa, dalam ribuan kebohongan dan perpecahan bangsa yang ia buat. Dia bentuk komunitas “pemuja” namanya buzzer. Buzzer ini digaji untuk memfitnah dan mengadu domba antara anak bangsa.

BACA JUGA :  Terobosan Sandi dan Janji Kiyai

Ia ingin di puji. Supaya ia dapat berkuasa sekuasa-kuasanya. Ia ingin leluasa menggadaikan negara ditangan asing, dengan kebijakan semi-kolonialnya.

Dia ingin dipuji, agar dapat berkuasa kembali. Semua kritik dikriminalisasi, semua topik pembicaraan yang menggugat kebijakannya ingin dia bungkam.

Sudah banyak orang dihadang di bandara. Sudah beberapa kali kegiatan diskusi dibatalkan. Ruang akal sehat ditutup rapat.

Elektabilitasnya sedang ambruk, dirampas oleh kebohongannya sendiri. Kepercayaan publik telah hilang dari dirinya, yang tersisa hanyalah keinginan berkuasa dengan modal obral janji-janji.

Dalam kondisi elektabilitas yang merosot itu, ia ingin supaya semua orang memujinya. Kampus diatur narasinya, mahasiswa dibentuk supaya miskin nalar kritisnya.

Kekhawatiran gagal untuk berkuasa menyebabkan ia nekat untuk melakukan segala cara. Semua narasi yang memungkinkan untuk merenggut sisa elektabilitasnya dikriminalisasi dan dilarang.

Tekanannya terhadap mereka yang kritis semakin memuncak menjelang Pemilihan raya, Karena kritikus ini merugikan bagi tuan Pemimpin yang lagi ikut kontestasi.

Meskipun semua struktur telah digerakkan, semua fasilitas negara digunakan, tetap saja rakyat ingin perubahan. Merubah pucuk pimpinan untuk memperbaiki segala kerusakan yang terlanjur dibuat.

BACA JUGA :  Api Penjajahan Membakar Spirit Kepahlawanan

Setelah kegagalan mengkampanyekan infrastruktur, keberhasilan yang disulap sedemikian rupa, maka jalan satu-satunya adalah membungkam narasi yang meluruskan akal sehat publik.

Perlakuan kekuasaan ini semakin buktikan, pergerakannya semakin sempit, dukungan rakyat semakin kecil, dan mobilisasi massa semakin mengambang.

Berbeda dengan calon penantang, yang semakin solid bergerak diberbagai daerah, Untuk merebut hati rakyat. Bukti konkrit lapangan memperlihatkan bahwa petahana sudah kalah. Ini menyebabkan frustasi dan bertindak sembrono.

Ia tidak sadar, semakin banyak diskusi yang dilarang, semakin kecil dukungan masyarakat kepadannya. Semakin banyak janji ia buat, semakin sulit rakyat mempercayai nya.

Tapi, karena kekurangan pikiran, nekat merupakan terobosan baru dalam pentas politik nasional. Ingat hanya penguasa saat ini yang menganggap kenekatan sebagai terobosan baru.

Namun, rakyat sudah sadar bahwa ia tidak lebih dari mengobral janji dan pembuat perpecahan, serta boneka yang dipaksakan untuk jadi Pemimpin Unotentik yg penuhg denfan kepalsuan.

Dulu ia “akan melakukan” sekarang orang bertanya “apa yang ia lakukan”. Setelah diselidiki, jawabannya, ia hanya berjanji. Diantara sekian banyak janji itu, sebanyak itu juga yang ia ingkari.

Maka publik mengatakan, selamat tinggal janji-janji, selamat datang perubahan. Sahutan publik itu menyebabkan lahirnya “narasi perang total”. Perang total adalah pertaruhan terakhir bagi orang yang terjepit, dan pasti akan kalah.

Dan 2019, adalah perang terakhir untuk menyambut hari kekalahannya. Dan publik akan berseru, selamat datang kebenaran, enyahlah segala kebohongan dan kedustaan..

Dr H Ahmad Yani SHMH, Caleg DPR RI Dapil Jakarta Timur(Jakarta 1) PBB (19)

Like :

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini