Ketua Umum PKB yang juga Wakil Ketua MPR Muhaimin Iskandar (kiri) bersama Penulis Buku ADEMPOL (Agama, Demokrasi,Politik) Lukmanul Khakim (kanan).Foto: Bambang Tri P./ telusur.co.id

telusur.co.id– Sebuah buku karya Anggota Fraksi PKB Lukmanul Khakim yang menceritakan perjalanan karir politik Ketua Umum DPP PKB A. Muhaimin Iskandar, atau yang akrab disapa Cak Imin berjudul ADEMPOL (Agama, Demokrasi,Politik) dibedah dan dilaunching diruang Fraksi PKB DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (15/4/2019).

Hadir dalam bedah buku tersebut Ketua PBNU Prof. Dr. Ma’shum Mahfud, Prof Dr. Lili Romli (LIPI) serta penulis buku Lukmanul Khakim anggota Fraksi PKB. Penulis menceritakan jika Cak Imin sejak kecil yang hidup di lingkungan Pesantren Mambaul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jawa Timur yang diasuh oleh pendiri NU KH. Bisri Syamsuri.

Karena itu tak heran jika akrab dengan istilah-istilah pesantren saat menjadi aktifvis Pergerakan Mahasiswa Islam Indoensia (PMII) di UGM Yogyakarta, hingga memimpin PKB, menjadi Menakertrans RI, Wakil Ketua MPR RI, dan jabatan spirititual sebagai Panglima Santri. “Panglima Santri tentu sangat berat, karena membawahi 28.000 (dua puluh delapan ribu) pesantren di bawah naungan NU,” kata Lukmanul.

Cak Imin mengaku saat terjun di dunia politik diajak oleh Almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan aktif di Forum Demokrasi (FORDEM) bentukan Gus Dur bersama kalangan intelektual di Jakarta. Selanjutnya pasca reformasi mendirikan PKB. “Padahal sejak menjadi aktivis di kampus, saya anti partai politik Orde Baru. Tapi, ternyata partai politik itu tergantung orangnya. Kalau orangnya baik, maka akan baik,” katanya.

Sebelumnya Cak Imin bercita-cita menjadi penulis, namun dalam perjalanannya makin kurang bahkan tak lagi memiliki banyak waktu untuk membaca. Sementara membaca itu menurut Cak Imin, sebagai modal dasar agar menjadi penulis yang baik dan berkualitas. “Jadi, bersyukurlah bagi sahabat-sahabat yang masih memiliki banyak waktu untuk membaca,” ungkapnya.

Keluarga besar KH. Bisri Syansuri sendiri memang merasa sangat kehilangan pesantren saat menjadi anggota DPR GR. Sebab, saat itu beliau tak lagi bisa aktif mengajar kitab, ceramah, dan meninggalkan jamaah. “Itulah pahitnya berpolitik bagi santri, dan saya saat ini hanya melanjutkan politik keluarga,” pungkas Cak Imin. Bambang Tri P

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini