telusur.co.id – Mantan juru bicara presiden ke 4, Abdurrahman Wahid, Adhie Massardi menilai Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 bukan bertarungan dua pasang calon, akan tetapi pertarungan antara politik elektoral dan politik kekuatan.

Pasalnya, menurut Adhie, hingga hari kelima setelah pemungutan suara dilaksanakan situasi masih terlihat tegang.

“Karena Jadi yang satunya menyatakan A dan yang satu menyatakan B tinggal adekuat saja mana yang menang A atau B,” ucap dia dalam diskusi dikawasan Tebet, Jakarta, Senin, (22/4/19).

Seharusnya, kata Ketua Umum Indonesia Bersih, Pemilu baik legislatif maupun Presiden yang diselenggarakan dengan teknologi informasi yang semakin canggih, membuat pesta demokrasi lima tanunan ini menunjukan keadilan.

Akan tetapi, banyaknya kecurangan membuat pemilu seperti baru pertama digelar. Bahkan pemilu pertama lebih baik dari saat ini.

BACA JUGA :  Dihadapan Sandiaga, Kyai dan Ustadzah Curhat Soal Kesejahteraan

“Pemilu pada tahun 1955 sangat jurdil dan sangat bagus kotak suaranya pun pakai kayu jadi aman dan clear bagus.
Tiba-tiba di era sekarang ini yang modern lebih mudah diakses justru kekacauan semakin parah,” ungkap adhie.

Pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara, lanjut Adhie, bisa memberikan sanksi pada lembaga survei. Sebab, KPU merupakan wasit dan penentu secara resmi siapa yang akan memenangkan pertarungan.

“Ketika lawannya prabowo-sandi mengatakan menang karena melihat dari data yang dikumpulkan, sementara quick count yang di mobilisasi menyatakan kalah, membuat pertarungan menjadi adu kuat,” ucap Adhie.

BACA JUGA :  Pejuang Ki Sunda Dorong Aher Dan Yuddy Jadi Cawapres

“Ketika mau protes ditentang, mereka malah mengatakan kalau mau melawan kita punya tentara dan polisi. Ini sudah masuk menang-menangan, dan ini sudah diluar elek konteks electoral lagi , dan ini sudah betul betul pertarungan kekuatan politik,” tambah dia.

Oleh sebab itu, Adhie menilai perlu ada penengah untuk menyelesaikan ketegangan seperti Sipil sosiety atau lembaga.

“Sekarang kita ini terjadi sosial distras, kita nggak percaya kepada semua ,malah kepada diri kita sendiri nggak percaya, padahal dalam situasi sekarang ini perlu ada institusi atau orang atau kelompok yang memiliki tras tinggi, berwibawa dan memanggil kedua belah pihak,” tukas dia.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini