ilustrasi pemilu 2019. Foto : Net

telusur.co.id – Pemilihan Umum (Pemilu) yang berlangsung setiap lima tahun merupakan hak masyarakat untuk memilih para wakil rakyat dan pemimpin bangsa.

Namun, dalam pesta demokrasi tersebut, tidak sedikit oknum calon wakil rakyat yang juga sering disebut caleg melakukan kecurangan seperti serangan fajar untuk perolehan suara sebanyak-banyaknya.

Menyikapi persoalan tersebut, pengamat politik, Pangi Sharwi Chaniago menilai serangan fajar di Pemilu memang sulit untuk dihindari. Sebab, semakin kecil luas daerah pemilihan, maka semakin besar terjadinya politik uang.

Namun, kata Pangi, jika wilayahnya luas, maka politik uang tak sedasyat wilayah yang kecil.

BACA JUGA :  Di Hitung Cepat Hanura tak Lolos PT, Pasek: Namanya Juga Kompetisi Biasa Saja

“Semakin luas wilayah pemilihan semakin rendah potensi politik uang dan sebaliknya semakin kecil wilayah dapil maka semakin sadis politik uangnya,” ucap dia saat dihubungi telusir.co.id (6/4/19).

Untuk mengurangi tingkat terjadinya politik uang di pemilu, kata Pangi, sangat tidak mudah, dibutuhkan peran besar masyarakat.

Bahkan, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting menghimbau masyarakat untuk membentuk komunitas yang berkomitmen menolak adanya politik uang.

“Nanti masyarakat akan langsung buat video dan photo kejadian yang terjadi sehingga mempersulit ruang gerak penyebaran politik uang dan logistik untuk finishing toch,” ungkap dia.

BACA JUGA :  Polisi Hentikan Kasus Slamet Ma'arif

Terkait peran Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Pangi menuturkan, lembaga tersebut memiliki keterbatasan seperti kurangnya jumlah personil.

Oleh sebab itu, dengan adanya peran serta masyarakat, Bawaslu dan Panwaslu akan merasa terbantu.

“Kita nggak bisa mengandalkan Bawaslu dan panwaslu, masyarakat yang harus turun gunung langsung bekerja,” tukas dia.[far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini