Sayuti Asyathri / Ist

Oleh: Sayuti Asyathri

Pemandangan pemilu kali ini membuat siapapun yang sudah pernah kecewa dengan penyelenggaraan pemilu sejak reformasi akan semakin merasakan kesedihan.

Kecurangan terjadi di mana mana, bahkan secara terang terangan, dan dengan segala cara pemilu direndahkan martabat dan mutunya.

Tetapi kita juga melihat, betapa sabarnya rakyat menghadapi semua itu. Mereka merasa seakan hidup di sebuah negeri yang menempatkan mereka seperti orang asing di negerinya sendiri. Mereka seakan harus berjuang untuk pengakuan atas perjuangan mereka. Padahal perjuangan mereka itu sederhana, yakni keinginan melihat nasib mereka berubah melalui pemilu.

Dalam pemilu kini, ada pemandangan di mana mereka membawa kotak kotak suara yang dari kardus itu melintasi pulau pulau dengan sampan yang mereka kayuh. Mereka harus menjaga keamanan suara dalam kotak kotak itu dari bahaya air hujan dan air laut dengan membungkusnya dalam plastik. Kemudian, berhari hari mereka harus mengawal penghitungannya sampai dini hari, di bawah temaram lampu di kampung dan dusun.

BACA JUGA :  Muhammadiyah Serukan Jauhi 'Money Politics'

Itulah rakyat sebuah negeri yang dikenal seantero jagad sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia. Hanya saja sejarah dunia tidak menuliskan nama nama mereka yang berkorban untuk demokrasi yang mereka kagumi jumlah peserta dan kerumitan pelaksanaannya itu.

Sejarah juga tidak menuliskan dengan adil bahwa hasil dari semua perjuangan setiap lima tahun dalam pemilu itu ternyata tidak merubah nasib mereka.

Mereka tetap nanti hanya kebagian cerita dari para pakar bahwa negara negara ini dan itu sudah maju dan beradab, negara negara ini dan itu sudah makmur dan rakyatnya menikmati kehidupan bermartabat. Padahal sebagian negara itu adalah tetangga dan kerabat mereka sendiri.

Cerita cerita bahwa rakyat di negara itu sudah menikmati listrik murah yang menyelamatkan kehidupan rumah tangga mereka, mendorong industri rakyat dan strategis berkembang, meningkatkan produktivitas, meningkatkan dan menghemat devisa, mengurangi ketergantungan pada impor. Rakyat menikmati pajak murah, harga kebutuhan pokok rendah dan terjangkau. Intinya : Mestinya mereka sendiripun punya cerita tentang hidup merdeka dan bermartabat setelah pemilu kali ini.

BACA JUGA :  Agar Punya Hak Pilih, Mendagri Minta Masyarakat Proaktif Daftar Perekaman KTP-el

Para pakar itu tidak memasukkan dalam cerita mereka apa yang sudah dilakukan para pakar dan ahli itu dalam tiap pemilu di negeri ini. Padahal Pemilu itulah tumpuan harapan rakyat untuk mengecap semua mimpi hidup bermartabat yang sampai kini mereka tidak menikmatinya.

Karena itu rakyat kini tidak mau mendengarkan cerita mereka lagi tentang methode ini dan itu, atas suara mereka. Mereka ingin setiap orang mendengarkan dari tiap tiap suara itu ada rintihan mereka untuk perubahan. Bagi mereka, pemilu hari ini, sudah harus ada gambaran perubahan yang dipersembahkan oleh pemimpin yang mereka pilih untuk itu. Pemimpin yang mereka titipkan amanat untuk sungguh sungguh memperhatikan nasib mereka.
Itulah yang membuat mereka optimis kali ini untuk menyelamatkan Pemilu yang mereka harapkan juga akan menyelamatkan hidup mereka. Maka jangan ganggu harapan rakyat itu. Itu saja. (Fhr)

Like :

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini