telusur.co.id – Mangkraknya penyelesaian kasus penyiraman wajah Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan membuat masyarakat silip geram terhadap penegakan hukum di indonesia.

Lembaga Bantuan Hukum Jakarta , Arif Maulana menduga, penyiraman kasus Novel sebagai bentuk acaman agar pemberantasan korupsi yang selama ini masif dimandulkan.

Namun, ancaman itu tidak membuat pemberantasan korupsi di Indonesia terhenti, akan tetapi semakin galak.

“Yang dilakukan terhadap Novel berbeda, menurut kita itu untuk dilumpuhkan dan menyebar rasa takut pada siapa yang membela HAM memberantas korupsi menjadi takut,” ucap dia dalam diskusi dikantor ICW, Kalibata, Jakarta, Rabu (19/4/19).

BACA JUGA :  Alhamdulillah, Mata Kanan Novel Membaik

Dikatakan dia, sejak peristiwa penyiraman Novel pada 11 April 2017 sampai dengan sekarang kasus tersebut belum juga menemui titik terang.

Oleh sebab itu, kata dia, pihaknya bersama masyarakat sipil mendesak Kepolisian sesegera mungkin menuntaskan kasus penyiraman wajah.

“Kita masih belum melihat pengembangan yang signifikan dari Kepolisian soal ini. Jadi kita tetap menuntut bentukan tim pencari fakta,” harapnya.

Sementara itu, perwakilan dari Indonesia Corruption Watch (ICW), Wana Alamsyah menuturkan, bahwa pihaknya mencatat ancama terhadap Novel tidak kali ini saja. Namun ada beberapa kali.

BACA JUGA :  Agar Uang Negara Tak Bocor, Pilpres 2019 Butuh Tokoh Anti Korupsi

“Novel tidak hanya satu kali, tapi ada lima yang kita catat,” ucap dia.

“Jadi ada beberapa preseden ketika menyinggung kepolisian akan twrjadi gesekan,” ucapnya.

Oleh sebab itu, ia pun memandang kasus tersebut tidak diambangkan, dan harus dituntaskan. [Far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini