Dr.H. Joni/telusur.co.id


Oleh: Dr. H. Joni.SH.MH.

(Notaris, Doktor Kehutanan Mulawarman)

Fakta hukum akhir bulan Maret atau tepatnya 29 Maret 2019 beberapa waktu berselang itu tidak mengejutkan, dalam arti peristiwa OTT KPK sudah ratusan kali terjadi. Berbagai lapisan pemegang kekuasaan terjaring, itu hal biasa.

Menjadi begitu mengejutkan adalah nilai dari yang berhasil ditangkap pada satu sisi dan motivasi di balik OTT dimaksud. Modus yang tidak lumrah dan mengejutkan adalah “hanya” seorang Caleg, tetapi mampu mengumpulkan uang sebegitu banyak uang, dan dalam bentuk uang kontan.

Dari sisi locus, tidak kalah mengejutkan lagi. Calegnya di Jawa Tengah, tetapi puluhan dos berisi uang itu disita di Jakarta.
Kasus dimaksud adalah ketika KPK mengamankan 400 ribu amplop berisi uang dan menangkap kader Golkar, atas nama Bowo Sidik Pangarso.

Menurut cerita, amplop itu untuk serangan fajar Bowo yang juga caleg di Dapil Jawa Tengah II. Namun jumlah amplop persiapan serangan fajar itu jadi sorotan, sebab sebagai caleg DPR RI, Bowo hanya butuh puluhan ribu suara untuk duduk kembali di Senayan. Sementara ampolop itu sekitar enam atau tujuh kali lipat dari jumlah suara yang dibutuhkan.

Sebagai bahan perbincangan,kalau menilik data konsituen Bowo Sidik Pangarso di Pileg 2014, maka anggota Komisi VI DPR itu hanya perlu mengumpulkan 66 ribu suara. Oleh karena tu kemudian muncul sangkaan yang wajar: benarkah amplop tersebut disiapkan Bowo untuk dirinya atau tidakkah buat serngan fajar Pilpres?. Kalau hanya untuk dirinya mengapa perlu berlipat lipat?.

Pelaku membela diri, dengan berandai andai. Bahwa ibarat menyebar 100 kan belum tentu 100 akan menjatuhkan pilihan kepada dirinya. Misalnya kebutuhan 40 kalau mungkin yang disebar akan lebih banyak dari itu untuk dapat angka 40 tadi. Sekadar rincian, 400 Ribu amplop tersebut berisi uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu yang dimasukkan dalam 84 kardus. Total uang yang disita dalam kasus dugaan suap distribusi pupuk tersebut berjumlah Rp 8 miliar. Artinya secara awam tidak seimbang antara hajat pencalonan pada satu sisi dengan jumlah mplop pada sisi lain.

Tentang serangan Fajar

BACA JUGA :  Dari Standar Moralitas Kampanye, Siapa Pemenanganya Sudah Dapat Ditentukan

Serangan fajar, pada mulanya dikenal sebagai sebuah judul filem perjuangan. Filem ini diproduseri oleh G Dwipayana dengan Sutradara Arifin C Noer dengan bintang atau pemainnya Charlie Sahetapy, dan Amoroso Katamsi. Isi filem menukilkan tentang drama sejarah yang menetukan nasib bangsa Indonesia pada tahun 1945.

Substansi dan alur filem ini disesuaikan dengan kondisi rakyat, ketika seorang paman dan keponakannya, bernama Temon, mengisahkan tentang sang paman yang berusaha untuk mendapatkan cinta dari gadis pujaannya sedangkan keponakannya sendiri lebih dalam usahanya dalam menunggu ayahnya yang berprofesi sebagai tentara kembali dari medan peperangan.

Dari sisi setiing, kisah ini sebagaimana dinyatakan merujuk pada perang kemerdekaan, menampilkan beberapa fakta sejarah yang terjadi di daerah yogyakarta. Berbagai peristiwa patriotik itu ialah penaikan bendera merah putih di gedung agung, penyerbuan markas Jepang di Kota Baru, penyerbuan lapangan terbang Maguwo dan serangan beruntun di waktu fajar ke daerah sekitar Salatiga, Semarang ditampilkan dengan setting kepahlawanan.

Di dalam peristiwa bersejarah itu diperlihatkan selain ribuan pemuda dan rakyat Yogyakarta, juga para pemimpin mereka, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Soeharto. Semua peristiwa di atas dirangkai dengan kehadiran Temon, anak laki-laki kecil yang masih lugu, di sela-sela perang bersama neneknya. dia selalu menanyakan ayahnya yang sudah tiada. Di sini, kehadiran seorang pejuang telah menjadi figur ayahnya.

Diselipkan pula, kisah keluarga bangsawan Yogyakarta, ketika Sang Romo ikut gigih membantu pejuang, sementara istrinya selalu ketakutan akan kehilangan kastanya sebagai bangsawan, karena salah satu anaknya menjalin cinta dengan seorang pemuda pejuang dari rakyat jelata.

Pergeseran Makna

Istilah serangan fajar yang mula mula sebagai judul film itu bergeser ke ranah politik. Dikenal sebagai money politics, atau politik uang. Bentuknya adalah pemberian materi dan atau uang sebagai refleksi ajakan untuk memilih tokoh atau partai tertentu. Serangan fajar adalah sebuah fenomena riil yang selalu ada dan selalu terjadi di setiap penyelenggaraan Pemilu.

Tidak menutup kemungkinan berbagai serangan fajar dengan berbagai trik serta modus mewarnai dan menodai pesta demokrasi Peilpres dan Pileg 2019 ini. Peristiwa di sekitar setting lokasi filem Serangan fajar yang ditokohi oleh Bowo, menjadi fenomena baru yang patut dicermati dan ditakdirkan beresamaan settingnya dengan filem serangan fajar yang sebenarnya.

BACA JUGA :  Wacana Untuk Men-Terorisme-Kan Pelaku Hoaks Jelas Hanya Cermin Kepanikan

Dari sisi masyarakat, masalahnya adalah bolehkah masyarakat menerima serangan fajar tersebut.

Dalam perspektif hukum, tentu saja sangat tidak boleh. UU Pemilu dan UU Tentang Pilpres memastikan bahwa money politics itu termasuk pidana, dengan penjatuhan sanksi berat. Dipandang sebagai tindak pidana formal, artinya dilarang karena ketentuan undang undang yang mengatur pelarangan itu. Namun demikian juga terkandung substansi pidana materiil, karena itu memang bertentangan dengan etika dan prinsip moralitas serta kejujuran.

Pada perspektif kultural, bangsa Indonesia pada dasarnya adalah bangsa yang menjunjung tinggi etika, menjunjung tinggi sikap ksatria dan menjunjung tinggi kejujuran.

Menerima serangan fajar sama artinya mencederai demokrasi Indonesia yang berlandaskan Pancasila, dan sangat bertentangan dengan nilai moralitas yang hanya menghargai proses pemilihan seorang pemimpin dengan nilai rupiah yang notabene tidak seberapa jumlahnya.

Penerimaan money politics termasuk dalam bahasa yang dikemas dalam serangan fajar sama artinya dengan merendahkan harga suara yang sangat diagungkan dalam konstitusi, dan menjadi elemen mendasar dalam demokrasi.

Ketegasan sanksi

Sangat wajar jika sanksi harus ditegakkan dan menjadi pembelajaran bagi semua elemen untuk tidak main politik uang. Hal itu tentu saja menjadi pembelajaran bagi yang lain agar tidak melakukan hal yang sama.

Sebagai catatatan khusus untuk kasus Bowo ini, harusnya KPK berani mengungkap lebih mendalam, bukan berarti ber-prejudice, bahwa di sana ada foto dan ajakan untuk memilih Capres tertentu, kiranya menjadi bahan penyidikan lebih mendalam. Masalahnya, dari sisi legal reasoning menjadi tidak masuk akal ketika amplop yang akan dibagi sedemikian banyak, bahkan berlipat dengan jumlah yang harusnya diperlukan.

Namun demikian dari pernyataan KPK nampaknya akan berhenti pada penyidikan terhadap caleg yang bersangkutan. Sepertinya dirinya siap menjadi martir untuk serangan fajar bagi Parpolnya, kendatipun konstruksi hukumya menjadi janggal jika hanya dirinya yang terkena sanksi. Dapilnya di Jawa Tengah, tetapi barbuk (barang bukti)nya di Jakarta. Sesuatu yang tidak biasa dan tidak wajar, tetapi di-biasakan dan di-wajarkan.***

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini