Foto: Dok. Kementan

telusur.co.id— Kementerian Pertanian terus mendorong peternak di seluruh daerah untuk melakukan percepatan pencapaian target kelahiran sapi dan kerbau secara masif dan serentak. Tujuannya, agar nantinya mampu mengatasi kebutuhan daging sapi nasional.

Demikian disampaikan Direktur Kesehatan Hewan Fadjar Sumping Tjatur Rasa saat mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan pada acara panen jagung dan panen pedet di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dalam keterangannya, Rabu (3/4/19).

Fadjar menjelaskan, peningkatan produksi merupakan jalan menuju cita-cita lumbung pangan dunia pada tahun 2045 mendatang. Untuk itu, perbaikan dan evaluasi harus ditingkatkan secara cepat supaya mampu mengimbangi roadmap yang telah ditentukan. Semua kegiatan UPSUS SIWAB dilakukan oleh petugas di lapangan langsung dilaporkan melalui Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional Terintegrasi (ISIKHNAS). Kemudian, semua data hasil pelayanan petugas di lapangan dapat langsung dipantau oleh semua pemangku kepentingan.

“Upsus Siwab perlu terus mendapatkan perhatian dan pengawalan agar berdampak pada pemenuhan target IB, kebuntingan dan kelahiran” tegas Fadjar.

Fadjar mengklaim, capaian kinerja program Upsus Siwab sangat fantastis. Hal ini terlihat dari pelayanan Inseminasi Buatan/IB dari Januari 2017 hingga 31 Desember 2018 telah terealisasi 7.964.131 ekor. Kelahiran pedet mencapai 2.743.902 ekor atau setara Rp 21,95 Triliun dengan asumsi harga satu pedet lepas sapih sebesar Rp 8 juta per ekor. Nilai yang sangat fantastis ini, kata dia, mengingat investasi program Upsus Siwab pada 2017 sebesar Rp 1,41 triliun, sehingga ada kenaikan nilai tambah di peternak sebesar Rp 20,54 Triliun.

BACA JUGA :  Gubernur Sumut : Kami Siap Menjadi Tuan Rumah HPN

Menurut Fadjar, Program Upsus Siwab dengan menggunakan Inseminasi Buatan (IB) merupakan salah satu upaya penerapan teknologi tepat guna, sebagai pilihan utama untuk peningkatan populasi dan mutu genetik sapi.

Selain melalui IB, juga ada penerapan teknologi tepat guna lainnya yaitu transfer embrio (TE). Melalui kegiatan TE, selain untuk peningkatan mutu genetik juga untuk memperkaya genetik ternak yang ada.

Salah satu yang saat ini sedang diupayakan Pemerintah adalah memanfaatkan teknologi TE untuk memproduksi sapi bibit unggul jenis Belgian Blue yang dikawinsilangkan (crossbreeding) dengan beberapa jenis sapi lokal di Indonesia.

BACA JUGA :  Unggul Dihitungan Cepat, Ketum Demokrat Beri Ucapan Selamat Pada Edy-Musa

Belgian Blue bukan sapi biasa, pertambahan bobot badannya tinggi sekali, per hari bisa mencapai 1,2 sampai 1,6 kilogram dan saat ini pengembangan jenis sapi ini terus dilakukan.

“’Pembangunan peternakan dan kesehatan hewan saat ini difokuskan pada terwujudnya swasembada protein hewani” tegasnya.

Fadjar juga menyampaikan keberhasilan percepatan peningkatan populasi ternak sapi/kerbau Upsus Siwab harus didukung oleh antara lain aspek kesehatan reproduksi, pemenuhan pakan, ketersediaan semen beku, sumber daya manusia dan sarana inseminasi buatan (IB) serta distribusinya, dan pengendalian pemotongan betina produktif.

Berdasarkan data ISIKHNAS pada periode 2017-2018 sebesar 47,10 persen atau terjadi penurunan pemotongan ternak ruminansia betina produktif yang dipotong pada tahun 2017 sebanyak 23.078 ekor menjadi 12.209 ekor di tahun 2018.

Dampak Upsus Siwab dirasakan, selain untuk percepatan peningkatan populasi sapi, juga dapat mengubah pola pikir peternak untuk beternak secara serius dan bersama (kelompok) sehingga lebih menguntungkan bagi peternak.

“Melalui kegiatan panen pedet, akan terlihat komitmen pemerintah daerah untuk menggalakkan Program Upsus Siwab” ujar Fadjar.[asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini