Dr. Margarito Kamis/Istimewa

P

Oleh : Margarito Kamis

(Doktor HTN, Staf Pengajar FH Univ. Khairun Ternate)

Pemilihan presiden dan wakil presiden akan diangsungkan pada tanggal 17 April. Tingal dua hari lagi. Tanggal ini akan jadi tanggal bersejarah. Pada tanggal inilah bangsa besar ini memutuskan siapa di antara dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan memimpin Indonesia untuk 5 (lima) tahun mendatang.

Siapa Jokowi- Ma’ruf dan siapa Prabowo-Sandiaga Salahuddin Uno, praktis telah diketahui rakyat Indonesia. Jokowi, yang tidak lain merupakan capres yang sedang berkuasa, menyelenggarakan pemerintahan, dan siapa Prabowo, telah diketahui orang. Siapa Ma’ruf Amin dan siapa Sandiaga Salahuddin Uno juga telah diketahui orang.     

Kuncinya

Keputusan rakyat pada tanggal 17 April nanti, hemat saya tidak memiliki makna lain selain memanggil dan menjadikan bangsa besar ini sebagai benteng terkuat atas kehidupan mereka. Tidak mungkin dalam rindu mereka, bangsa ini tidak dirindukan menjadi rumah yang mensejahterakan, dalam cita rasa keadilan sosial politik, ekonomi dan hukum, di semua sudutnya.

Dalam citarasa itu, bangsa ini tidak mungkin tidak diimpikan rakyat, tentu melalui keputusannya pada tanggal 17 April agar, ambil misalnya,  Xenophia apalagi Islamphobia, tidak terus mewabah. Wabah itu, dalam sejarahnya melemahkan semua bangsa. Citarasa itu juga memanggil dan menjadikan keamanan sebagai kebutuhan, mungkin utama dalam kehidupan di masa yang akan datang.

Tidak mungkin bangsa sebesar ini tidak  merindukan agar kelak bangsa besar ini diperhitungkan dalam pergaulan internasional. Impian itu memang harus diakui, harus melewati jalan berliku dan terjal untuk digapai. Sejarah telah menunjukan kebenarannya betapa pemimpinlah yang memandu perjalanan, yang tampak  mustahil menjadi realistis.

Itulah yang ditunjukan oleh sejumlah presiden hebat di dunia. William McKinley, presiden Amerika tahun 1896-1901, hampir tak tertandingi, yang mengubah harga diri Amerika. William, pria necis ini, yang semasa berstatus anggota kongres tertakdir sebagai pioner dalam isu tariff, suatu isu menurutnya sangat kompleks, terkait dengan kerumitan statistikal, tetapi dalam pemahamannya tarif menjadi isu kunci dalam kekuataan ekonomi. Keyakinan itu menghasilkan kekuatan dirinya kokoh dengan kehendak agar isu itu diperdebatkan secara terbuka. Dari caranya memandang esensi tariff sebagai soal inti kekuatan ekonomi sebuah bangsa, mengantarkannya pada kesempatan pertama kepresidanannya mendesak kongres segera menyediakan UU Tarif. Tujuan utama UU itu, dalam pikirannya adalah memproteksi pasar dalam negeri AS, dan dengan semangat itu, hemat saya terlihat sangat taktis, secara resiprokal William juga menyediakan ruang impor.

Pria necis, entah karena pemahamannya itu atau bukan, yang dalam kenyataannya  mendapat dukungan kuat dari Hayek ketika bertempur menuju kursi legislative selama dua periode, dalam kampanye kepresidenannya memanggil pemilih dengan tiga slogan berkelas. Slogannya adalah “patriotism, protection dan prosperity.” Ketiga slogan itu terbukti ampuh.

BACA JUGA :  Belum Tentu Ma'ruf Amin, Gusdurian Akan Pilih Calon Pemimpin Melalui Dua Proses

Menurut Michael McGrerr begitu berkuasa, William mengubah posisi Amerika dalam pergaulan internasional. William membawa Amerika menjadi negara kuat menggantikan posisi dominan Inggris di panggung internasional. Dalam kepresidenannya Phlipine segera masuk dalam kebijakannya luar negerinya.

Lompatan jauh itu, dalam kenyataannya tidak disukai oleh sekelompok kecil orang. Entah karena ini atau bukan, tertapi ia hanya bisa menikmati masa kepresidenan untuk periode kedua tidak lebih dari sebulan. William ditembak, dan seminggu setelah penembakan itu ia berpulang ke alam asal untuk selama-lamanya. Theodore Rosevelt pun segera naik tangga politik,  menggantikannya menjadi Presiden.

Presiden-presiden sesudah mereka memang hebat-hebat, tetapi saya ingin mengenali dua orang diantaranya. Franklin Delano Rosevelt, pria sakit-sakitan dalam kepresidenannya yang hampir empat periode itu, adalah presiden hebat. Kemakmuran Amerika yang tersapu, melayang bersama datangnya resesi ekonomi, yang diawali dengan kekacauan di pasar uang, harus mengambil langkah, tidak hanya tepat, tetapi juga cepat. Itulah yang dikenal dengan istilah “100 hari pertama” dan “100 hari kedua.”

Darinya pula dunia politik mengenal, entah istilah atau semboyan atau kata bijak “yang perlu ditakuti adalah ketakutan itu sendiri” bukan yang lain. Pria progresif ini dikenang rakyatnya, yang kala itu berada dalam kekurangan lapangan kerja terberat disemua sektor sebagai pria paling berjasa dalam menyediakan makan dan menjamin mereka tetap dapat memiliki rumah.

Demi Bangsa

Pemimpin, pemimpin dan pemimpin, dicatat sejarah dengan kebenarannya yang dapat diverifikasi, muncul dan tersaji dalam semua lapangan kehidupan bernegara sebagai penentu kemajuan bangsa. Pemimpin pulalah yang dalam semua sejarah ketatanegaraan dan politik muncul menjadi faktor kunci yang mewarnai seluruh perjalanan sejarah sebuah bangsa.

Dititik itulah bangsa ini tidak dapat menyepelekan tanggal 17 April, tanggal pencoblosan surat suara pilpres dan pileg. Pemimpinlah yang menentuan haluan yang harus dilalui sebuah bangsa. Dari merekalah kesejahteraan datang dan pergi. Pemimpin menandai dirinya dan mengarahkan bangsa melalui pemikiran, gagasan yang melampaui waktu, apa yang disebut progresif.

Bersedia mengenal kelebihan  pemimpin yang telah mendahuluinya, mengambil tanggung jawab atas kekurangan-kukurangan yang tersaji di masa lalu, menunjukan arah yang harus diambil, itu tipikal pemimpin. Berani mengambil kehebatan-kehebatan pendahulunya, adalah tipikal lain seorang  pemimpin. Itu dilakukan, ambil misalnya Dwight D. Eishenhower, jendral pintar, memiliki kompetensi tinggi, dan pekerja efektif dengan keputusan-keputusan hebatnya.

BACA JUGA :  Video Ruhut Buka-Bukaan Soal Sandiaga

Jenderal  tanpa partai ini, yang pada tahun 1942 memegang komando pasukan Amerika Serikat di Eropa, posisi yang mengantarkannya menjadi pria bereputasi tinggi. Karena kompetensinya, Ike, begitu panggilannya, disukai oleh Demokrat dan Republik, sebelum akhirnya berlabuh di partai republik. Sekalipun muncul sebagai orang republikan, maksudnya dinominasi dan menjadi calon presiden dari partai republik, tidak sesentipun Jenderal hebat ini mengesampingkan konsep progresif Franklin Delando Rosevelt, demokrat top ini.

Begitu memasuki gedung putih, Ike segera mengeluarkan kebijakan, memperluas cakupan jaminan sosial, sebuah kebijakan khas progesif Rosevelt. Seperti Rosevelt, Ike juga segera memperluas lapangan kerja untuk merespons tenaga kerja baru yang sedang tumbuh. Kompetensinya dibidang militer membawaIke memompa kemampuan persenjataan Amerika, memaksa Amerika meninggalkan peralatan dan kemampuan konvensionalnya. Ini harus dilakukan, karena Uni Soviet, dalam pandangannya, terus tumbuh dengan kemampuan persenjataan yang tidak dapat dikecilkan.     

Di tempat lain, tepatnya pada periode kedua  pemerintahan Eishenhower kedua, Prancis yang dipimpin Jenderal Charles Degaule melakukan satu terobosan mengagumkan. Jenderal ini, dengan kepemimpinannya, mengakhiri Republik keempat, mengubahnya menjadi republik kelima. Berbeda dengan republic keempat, republik kelima Perancis ditandai dengan sistem pemerintahan baru yang belum pernah dikenal dunia hingga saat itu.

Sistem pemerintahan ciptaannya dikenal dengan sistem semi presidensial, atau sering juga disebut hybrid system. Sistem ini mengalihkan sebagian kekuasaan pemerintahan yang semula terkonsentrasi pada presiden dialihkan ke perdana menteri. Sisitem ini merupakan perwujudan keyakinannya bahwa presiden harus bisa berada di atas semua golongan, dan menjadi pemutus akhir bila terjadi kekisruhan nasional.

Di Asia pikiran dan hasrat besar itu ditunjukan Sun Yat Sen, dokter, yang tersohor dengan hasrat dan pikiran nasionalisme top, yang menjadi pioner lahirnya republik China. Pikiran besar dan hasrat besar itu pula yang ditunjuikan oleh Mao, pemimpin lain republik China sesudah Sun Yat Sen. Pada tahun 1945 Mao pernah berkata saat ini ada dua gunung besar di China. Gunung itu adalah “imprialisme dan feodalisme, tetapi kedua gunung itu, begitu diyakini oleh Mao akan  hilang melalui kerja keras tanpa henti rakyat China.”

Indonesia punya Bung Karno, yang sejak dari muda usia telah menandai kebesarannya dengan pikiran dan hasrat besar. Indonesia merdeka harus terealisasi, betapapun sulitnya. Ternyata hasrat itu terealisasi pas tangal 17 Agustus 1945. Bung Karno pulalah yang membuat negara-negara tetangga harus berpikir cermat, karena Indonesia kala itu cukup tangguh dengan persenjataannya.

Semuanya yang dikemukakan di atas terlihat, begitu nyata pada  Prabowo. Terlihat betul kerinduan, keyakinan dan tekadnya yang besar membawa rakyat dan bangsa ini ke panggung peradaban yang hebat. Pengakuan Jenderal (Purn) Gatot Nurmantio beberapa hari lalu, adalah bukti lain tentang dia, Prabowo. Hebatnya ia berderai air mata kala dinasihati Ustad Abdul Somad, pria santun yang menyerahkan segala urusan fitnah atas dirinya kepada Allah Subhanahu wata’ala.   

Bangsa ini telah memiliki secercah cahaya, yang beralasan diyakini memiliki daya memanggil pemimpin hebat. Secercah cahaya itu tersaji, manis sekali, dalam fenomena rakyat, sekalipun tak semuanya, secara sukarela memberi uang kepada Prabowo dan Sandi, sekadar meringankan, sebisanya, capres mengarungi lautan pilpres penuh gelombang ini. Mereka, terlihat memiliki keyakinan betapa pemimpin hebat, lahir dari rakyat yang juga hebat. ***

Jakarta, 14 April 2019


Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini