Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nizar Ali. Foto: Dok. Kemenag

telusur.co.id—Kementerian Agama bersama Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines telah bersepakat dalam penerbangan jemaah haji Indonesia. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatangan perjanjian pengangkutan udara jemaah haji reguler 1440H/2019M di Kantor Kemenag.

Perjanjian ini ditandatangani oleh Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nizar Ali bersama Direktur Niaga PT. Garuda Indonesia Pikri Ilham dan VP hajj and Umrah Saudi Arabian Airlines Abdul Madjid.

“Asumsi jumlah jemaah haji reguler dan petugas kloter yang akan diterbangkan sebanyak 206.535 orang dengan 507 kloter. Sebanyak 104.055 jemaah akan terbang dengan Garuda Indonesia, sedang 102.475 jemaah terbang dengan Saudi Arabian Airlines,” kata Nizar Ali dalam keterangannya, Rabu (3/4/19).

BACA JUGA :  Menag Lukman Minta ASN Waspadai Modus Penipuan Kenaikan Pangkat

Menurut Nizar, Garuda Indonesia akan memberangkatkan jemaah haji dari Embarkasi Aceh, Medan, Padang, Jakarta-Pondok Gede, Solo, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, dan Lombok. Sedangkan, Saudi Arabian Airlines akan menerbangkan jemaah dari Embarkasi Batam, Palembang, Jakarta-Bekasi dan Surabaya.

Masa operasional pemberangkatan jemaah haji akan berlangsung 30 hari. Jemaah kloter pertama terbang ke Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah pada 7 Juli 2019. Kloter terakhir, terbang ke King Abdul Aziz International Airport (KAAIA) Jeddah pada 5 Agustus 2019.

“Masa operasional pemulangan jemaah haji Indonesia juga berlangsung 30 hari. Kloter pertama akan terbang ke Tanah Air pada 17 Agustus 2019. Kloter terakhir terbang ke Tanah Air pada 15 September 2019,” tuturnya.

BACA JUGA :  Dituntut Minta Maaf, Arteria Dahlan Bungkam

Kepada Garuda Indonesia dan Saudi Arabian Airlines, Nizar menegaskan bahwa transportasi udara jemaah haji dari Indonesia ke Arab Saudi (pergi pulang) menggunakan sistem charter. Penerbangan juga tanpa transit, kecuali untuk kepentingan pengisian bahan bakar di salah satu embarkasi haji atau wilayah tertentu dan karena alasan keselamatan penerbangan harus melakukan pendaratan di suatu wilayah, dengan tetap memperhatikan aspek keamanan, keselamatan, kenyamanan, dan efisiensi.

“Prinsip transportasi udara ini berbasis pelayanan prima bagi jemaah agar nyaman, aman, dan tenteram saat berangkat ke Tanah Suci dan kembali ke Tanah Air,” tandasnya [asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini