Pengamat Intelijen, Stanislaus Riyanta. (Foto: telusur.co.id/Fahri)

telusur.co.id – Media sosial dihebohkan dengan rekaman video penggerebekan sebuah ruko di Bangi, Selangor, Malaysia. Di dalam ruko tersebut ditemukan kantong-kantong yang berisi surat suara untuk Pilpres dan caleg yang telah tercoblos, bahkan nampak jelas dengan santainya seseorang sedang mencoblos surat suara.

Mananggapi hal tersebut, Pengamat Intelijen Stanislaus Riyanta menjelaskan, dari video tersebut nampak fakta-fakta yang menonjol yang bisa menjadi kunci dari pengungkapan kasus ini. Pertama adalah surat suara tersebut ditemukan di tempat yang bukan tempat penyimpanan resmi, dan kedua penggrebekan dilakukan oleh simpatisan dari pendukung kubu tertentu, serta sengaja diekspose dengan sangat tenang.

“Bukan seperti penggrebekan suatu kasus yang normalnya pelaku akan segera menghentikan aktifitas, atau bahkan akan berupaya menghilangkan jejak,” ujar Stanislaus dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/4/19).

Menurut Stanislaus, fakta ini jelas sudah sangat sulit diterima jika hal tersebut bukan suatu pengkondisian, dengan tujuan untuk menyudutkan pihak tertentu. Surat suara yang ditemukan tersebut pun jika benar, kemungkinan besar berasal dari model pemungutan suara dengan Kotak Pos yang tidak sampai ke tujuan dan direkayasa.

BACA JUGA :  Pengamat: Ada Kelompok yang Hanya Siap Menang, Kalau Kalah Mengaku Dicurangi

“Untuk mengungkap kasus ini tentu akan dimulai dari mengecek apakah surat suara tersebut asli, jika tidak asli maka tinggal ditangkap saja saksi-saksi yang ada di TKP termasuk penggrebek kemudian dimintai keterangan. Pasti nantinya akan menghasilkan suatu petunjuk terkait siapa yang menyiapkan membawa dan memerintah untuk mencoblos surat suara tersebut,” terangnya.

Jika surat suara tersebut asli, lanjut Stanislaus, maka akan dilakukan pelacakan model surat suara tersebut dan kurir yang membawa. Pelacakan akan menunjukkan siapa pembawa surat suara tersebut.

“Data lain yang bisa menjadi petunjuk adalah siapa pemilik ruko yang dipakai untuk menyimpan dan mencoblos surat suara tersebut,” katanya.

Stanislaus juga menilai, dari model penggrebekan, temuan-temuan di lapangan, dan fakta-fakta yang terjadi, kecenderungan peristiwa tersebut adalah suatu skenario untuk menyudutkan pihak tertentu. Jika dilakukan oleh pihak-pihak yang punya kepentingan untuk menambah jumlah suara, hal ini sangat ceroboh dan tidak masuk akal.

BACA JUGA :  Surat Suara Tercoblos Paslon 01, Analis Sosial : Ada yang Takut Kalah dan Halalkan Berbagai Cara!

“Mengingat jumlah surat suara yang ditemukan dan begitu mudahnya digerebek dan didokumentasikan,” jelasnya.

Peristiwa tersebut, sambungnya, dapat dinilai adalah suatu upaya cipta kondisi untuk mendelegitimasi Pemilu, dengan seolah-olah menunjukkan bahwa pemilik suara yang dikondisikan melakukan kecurangan sehingga Pemilu tidak sah. Tentu saja jika analisis ini benar, maka pelaku dari operasi cipta kondisi ini adalah pihak yang berpotensial kalah dan lawan politik dari pemilik surat suara yang telah tercoblos.

“Pemilihan operasi cipta kondisi di Selangor Malaysia diprediksi karena pertimbangan memanfaatkan celah-celah kerawanan lemahnya pengawasan model pemungutan suara dengan model kotak pos,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, diprediksi pelaku mempunyai akses ke jasa ekspedisi pengiriman surat suara tersebut. Pemilihan lokasi juga diduga telah dipersiapkan sebelumnya, sehingga mata internasional tertuju pada Pemilu di Indonesia.

“Selangor Malaysia alias luar negeri dipilih untuk menarik perhatian internasional dengan menciptakan framing, bahwa telah terjadi kecurangan pada Pemilu 2019 di Indonesia,” tandasnya. (Fhr)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini