Uastad Abdul Somad (UAS) bersama Prabowo Subianto/Net

Oleh Margarito Kamis  

(Doktor HTN, Staf Pengajar FH. Univ Khairun Ternate)

Ustad Abdul Somad, dikenal umum dengan sebutan UAS, pria santun ini akhirnya menemui Pak Prabowo. Dalam perbincangan singkatnya bersama Pak Prabowo, yang disiarkan langsung Tvone, sebuah stasiun Tv yang tak pernah absen dalam meliput kegiatan-kegiatan besar Ummat Islam, hebatnya ia memberi minyak wangi dan tasbeh kepada Pak Prabowo.

Dalam nasihat singkatnya kepada Prabowo, ustad muda berilmu luas ini, cukup tegas memperlihatkan keyakinannya Prabowo, Insya Allah, keluar sebagai pemenang dalam pilpres ini. Kalau nanti Bapak menang, katanya lembut khas dirinya, “jangan undang saya ke istana, jangan kasih saya jabatan, biarkan saya keluar masuk hutan berdakwah.” Masya Allah.

Airmata Prabowo

Tidak jelas apakah kelembutannya dalam menyampaikan kata-kata khas ulama berkelas itu atau karena minyak wangi dan tasbeh yang diberikan kepada Prabowo, pada momen tertentu dalam cakap singkat itu, air mata kecil Prabowo tampak terlihat. Matanya terlihat berkaca-kaca. Prabowo, yang dikenal tegas, tak mampu melawan suara hatinya yang hidup.

Prabowo yang telah tertambat pada hati sebagian besar pemilih, terutama ummat Islam, dengan air matanya itu, air mata hati, bukan air mata mengada-ada, semakin meyakinkan bahwa dirinya pantas diandalkan. Ia terlihat terdiam, dan setelah itu meminta Ustad muda nan lembut ini mengulang kembali sebuah peringatannya.

Andai hanya ada satu doa, kata seorang pembesar Islam yang dikutip Ustad, maka doa itu tiada lain “mintalah pemimpin yang adil.”  Prabowo, dalam sekejab meminta Ustad ini mengulang kalimat-kalimat ber-nas yang baru saja meluncur keluar dari mulut sang Ustad, yang acapkali kocak dalam menyampaikan dakwahnya ini.

Peristiwa penuh hikmah itu, ternyata membuahkan ujian lain untuk Ustad, yang nafasnya tak pernah diberatkan dengan kata-kata kotor, apalagi fitnah. Ustad difitnah. Fitnahnya mengerikan, menyasar kebesarannya sebagai ustad. Tetapi sesuai tipikalnya, sangat ustad menyambut fitnah itu dengan hati berkelas “menyerahkan semua urusan fitnah itu kepada Allah Subhanahu Wata’ala.” Kadar pengetahuan agama, dan kebesaran hatinya tak mengizinkan dirinya menyambut fitnah itu  dengan marah, dan sejenisnya. Top!

BACA JUGA :  Prabowo-Sandi Dijemput Kemenangan

Untuk apa membalas fitnah dengan kemarahan. Untuk apa membalas fitnah dengan fitnah? Toh kalau pun membalas, balasan itu tak mengubah hakikat air mata Prabowo. Air mata Prabowo, ya air mata pemimpin memiliki hati. Air mata itu air mata keadilan, air mata ketakutan akan siksa yang menanti semua pemimpin tak adil, dzolim, kelak disuatu saat yang telah ditentukan. Air mata itu, air mata tekad untuk berlaku adil pada semua, pada siapapun. Air mata itu tak mungkin bukan air mata, yang dipompa suara bathin, suara hati di alam tak terlihat.

Tidakah urusan air mata adalah urusan besar, urusan yang berinduk pada hati yang hidup? Air mata ini tak bakal bisa disapu dengan fitnah dibalas kemarahan, apalagi fitnah pula. Biarkan saja kerendahan hati Ustad dan air mata Prabowo bicara sesuai kodratnya. Biarkanlah semua fitnah itu berlalu, tertambat pada timbangan alam yang tak bisa dicurangi, khas kecurangan  politisi rendahan. 

Simpati Melebar

Tak disangka, usai peristiwa cakap bersama antara Ustad dengan Pak Prabowo, yang disiarkan langsung Tvone itu, jagat pilpres pun bergelora. Sebagian orang yang belum menentukan pilihan, apakah memilih Pak Prabowo atau Pak Jokowi dalam pilpres ini, akhirnya memutuskan memilih Pak Prabowo. Alhmdulillah.

Susul-menyusul setelah itu, pembelaan terhadap ustad Somad, dan kutukan kepada sang penyebar fitnah bermunculan.  AA Gim, Ustad yang suara kasarnya lembut selembut suara bathinnya ini pun tak kuasa membiarkan fitnah itu. Tetapi sesuai tabiatnya yang telah terpahatkan dalam hidupnya, Ustad bertutur lembut ini hanya mampu mengatakan “Insya Allah, Allah  semakin memuliakan Ustad Somad.” Masya Allah, kalimatnya menandai tinggi ahlaknya.

AA Gim dan beberapa Ustad sesudah itu, susul-menyusul memberi dukungan pada Pak Prabowo, pria yang mata-matanya berkaca-kaca kala menerima nasihat amat singkat dari Ustad Somad itu. Ustad-ustad ini, seperti telah diketahui semua orang, bukan hanya memiliki pengikut, tetapi terlanjur tertambat, begitu keras  di hati ummat Islam.

BACA JUGA :  Teuku Wisnu Pilih Prabowo-Sandi Karena Ikut Ijtima Ulama

Susul menyusul sesudah itu, orang-orang yang sejauh itu belum memiliki pilihan final, mengambil putusan final mendukung, memilih Pak Prabowo-Sandi dalam pilpres ini. Ada sejumlah memgambil sikap itu. Mereka, entah karena pengikut Ustad-Ustad itu atau bukan, terbantu dengan peristiwa penuh makna itu. 

Tak mungkin menempatkan peristiwa itu dalam menerangkan sikap adik perempuan Pak Ahok. Tetapi bukan disitu masalahnya. Masalahnya adik perempuan Pak Ahok, pria yang pernah dibantu Pak Prabowo untuk berpasangan dengan Pak Jokowi di pilkada DKI, menyatakan sikapnya, langsung dihadapan Pak Prabowo, dengan [pertimbangan yang sangat rasional. Beliau ini, mengagumkan, mengatakan “pak Prabowo memiliki hati, bertipikal pemimpin besar.” Beliau cukup yakin dengan kepemimpinan Pak Prabowo, karena kala tiada seorang pun memikirkan Pak Ahok bisa jadi calon wagub, Prabowo justru memiliki keyakinan itu, mengambil tindakan kongkrit untuk tujuan itu. 

Hampir bersamaan dengan itu, Pak Sutiyoso, pendahulu Pak Ahok di DKI, terlihat terhadapan dalam suasana bersahabat dengan Pak Prabowo. Memang Pak Sutiyoso tak bilang mendukung Pak Prabowo, tetapi tutur kata beliau dalam menerangkan peristiwa itu, memiliki kelas tersendiri. Kata-katanya, teridentifikasi bermakna mendukung Pak Prabowo.

Janganlah menjauh dari ulama, makna lain dari pesan Ustad Somad kepada Pak Prabowo agar dekat dengan ulama. Sukalah dengan nasihat para ulama, lintasi titian ini karena di titian ini ada rahmat adalah makna lain dari nasihatnya itu. Di jalan ini kau, Prabowo bahagia, kehormatanmu membesar.

Ustad-stad itu, dalam diamnya, tak mungkin tak mengakui Pak Prabowo memiliki modal cukup untuk jadi pemimpin. Tak mungkin mereka tak tahu Pak Prabowo tak pernah mampu memfitnah orang, tak mungkin mereka tak tahu Pak Prabowo tak punya kepekaan pada keadilan, tak mungkin tak tahu Prabowo suka melihat orang makmur, dan selalu rindu pada kesatuan bangsa.

Suka atau tidak keberpihakan para ustad itu memiliki sifat dan nilai sebagai panggilan kemenangan untuk Pak Prabowo-Sandi. Makna menang tidak terletak dalam kemenangan itu sendiri. Menang tidak untuk menang itu sendiri. Menang adalah jalan dan cara memanggil kemakmuran, keadilan, keamanan, lapangan kerja, menghadirkannya dirumah-rumah setiap pemilih, siapapun mereka. ***[Gus]

Jakarta, 16 April 2017

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini