Ketum PBB, Yusril Ihza Mahendra/Net

Oleh : Ismar Syafruddin, SH, MA.
Wasekjen Hukum Dan Ham PBB, Caleg DPR RI Jabar 6

Dalam politik, tidak semua ungkapan, ucapan dan tindakan seseorang ditanggapi, apalagi dikonfrontir secara tajam dengan mempertegang urat leher.

Seorang politisi besar, tidak akan menanggapi ungkapan seseorang dengan jawaban yang konfrontatif. Apalagi tidak memiliki efek yang signifikan dalam pertarungan electoral.

Tetapi berbeda politisi dengan akademisi. Akademisi memang sensitif dari kritikan dan sanggahan. Mereka terbiasa dengan “anak-anak kecil” di dalam ruangan, hanya untuk mendengarkan ceramahnya.

Itulah Yusril Ihza Mahendra (YIM), seorang guru besar yang jauh dari pengalaman politik yang getir seperti ini. Kenapa tidak ambil contoh kepada Amien Rais, yang juga guru besar, tetapi sangat tenang menghadapi kritikan dan tidak ada satupun yang dia jawab. Justru ia membuat statemen baru yang lebih kontroversial untuk menutup segala tuduhan itu, meskipun tuduhan itu tidak benar. Itu seorang politisi kelas tinggi.

Yusril, dari caranya menanggapi, justru menggambarkan bukan karakter seorang politisi. Karena itulah Partai Bulan Bintang sulit untuk menembus batas electoral Parliamentary Threshold, dengan sikap individualisme Ketua Umum Partai seperti ini.

Saya ingin menyoroti sikap Ketua Partai yang memilih bertentangan dengan Habib Rizieq Syihab hanya untuk membela dirinya, yang itu tidak terlalu penting dalam konteks politik. Pengaruhnyapun dalam perolehan suara partai sangat sedikit bahkan cenderung makin tergerus, dari sedikit menjadi tambah sedikit? (Setelah momen semangat bela Islam 212 terabaikan, darimana lagi PBB bisa mendapatkan tambahan suara? Apakah berharap dari koalisi petahana yang notabene pembenci syariat Islam?)

Kalau semua pembicaraan orang ingin jawab, maka mungkin habis energi untuk menjawabnya. Sebab, itu hanya memperkeruh suasana dan memperlihatkan mental temperamental, dan dimata publik itu sangat mendapatkan penilaian buruk.

Bukankah YIM pernah menyerang Prabowo Subianto (PS) secara bertubi-tubi? Apakah prabowo jawab? Tidak, penyerangan itu prabowo biarkan mengalir dan hilang dengan sendirinya. Karena orang tidak terlalu tertarik dengan perkelahian elit yang hanya membela diri. (Terbukti bahwa PS lebih sabar dan lebih bisa mengendalikan diri dari Yim n Jokowi)

Jangan seperti Jokowi, yang Setiap kritikan kepadanya sebagai seorang presiden dianggap sebagai penghinaan dan cacian terhadap individu, padahal orang memperbincangkan dia sebagai Presiden.

Setelah Jokowi mau melawan, dan menyatakan “konfrontasi” terhadap kritikan publik itu, maka elektabilitasnya anjlok dan secara electoral itu sangat merugikan.

Kenapa tidak belajar dari sikap jokowi itu? Sikap yang rugikan diri sendiri, hanya karena sifat temperamental. Kenapa seorang ketua partai tidak bisa bersikap sebagaimana seorang ketua partai?

Memang, YIM agaknya tidak cocok berdiri di panggung politik moderen yang dimana ada banyak dinamika dan isu yang berkembang, yang seharusnya itu menjadi pendewasaan sikap. Bukan malah justru menimbulkan reaksi yang berlebihan. Tapi anehnya permasalahan yang ada di PBB tidak diurus ketika ada pengurus inti yang melakukan perbuatan amoral dan hal itu sudah dilaporkan ke Yim justru saksinya yang diancam bukannya akar masalahnya yang diluruskan, padahal PBB adalah Partai Islam yang harus jadi teladan bagi partai lainnya, demikian pula ada pengurus yang diduga mengemplang uang Partai dengan meminta dana ke Partai dengan dalih untuk sosialisasi di KPU agar PBB lolos namun faktanya PBB lolos sampai tahap Gugatan di Bawaslu, harusnya pengurus tersebut ditindak bukan malah dijadikan jubir untuk lantang menyerang pihak lain yang hal tersebut tidak islami dan sangat tidak patut.

Kalau kita telusuri, pertentangan ini disebabkan karena setelah mengambil Langkah mendukung Jokowi dengan tidak mengikuti Ijtima’ ulama, kemudian menyerang capres yang didukung oleh Ijtima Ilama, menimbulkan  kekecewaan banyak pihak, termasuk internal PBB sendiri. Lagi-lagi hanya karena like and dislike. Apalagi dalam chat via WhatsApp tersebut jelas Yim mengakui bahwa lebih banyak simpatisan PBB yang cenderung ke 02, tapi faktanya dia memaksakan diri untuk ke 01 yang hanya pertimbangan dan alasan itu politik tingkat tinggi/kasyaf, yang lain disuruh ikut saja bak Nabi Musa harus ikut apa saja yang diucapkan Nabi Khaidir…

Padahal yang menyatakan dukungan ke Prabowo-Sandi adalah Ulama yang sebagian besar juga menaruh harapan kepada PBB. Tetapi Yusril memilih berbeda, kemudian menyatakan konfrontasi.

Para ulama juga tidak bisa diam, PBB bukanlah Partai milik Pribadi Yusril, ini partai umat, dan harus diselamatkan. Sikap Yusril sebagai individu adalah merupakan persoalan leadership, tetapi persoalan PBB adalah persoalan lain.

Sebab di dalam PBB masih banyak tokoh-tokoh yang sejalan dengan aspirasi umat, dan masih sejalan dengan ulama. Mereka juga kecewa dengan cara ketua umum yang memilih berbeda dengan arus besar politik Islam itu.

Oleh sebab itu, seharusnya oknum-oknum pengurus PBB yang sebagian kecil bersama Yusril itu tidak terlalu reaksi terhadap apa yang diucapkan oleh para ulama itu, karena tidak menutup kemungkinan masih banyak orang-orang FPI misalnya, organisasi Islam lainnya yang masih memilih PBB.

Tetapi kalau pertentangan seperti ini dimunculkan, dan tidak ada yang bersedia bersabar, maka yang hancur adalah cita-cita politik Islam, partai Politik Islam (PBB) dan umat akan kembali ragu untuk menentukan pilihannya terhadap partai Islam.

Oleh sebab itu, saran saya, Yusril harus lebih dinamis dan tidak terlalu tegang menghadapi kritikan dan berbagai macamnya, karena ia adalah Ketua Umum partai. Karena biar bagaimanapun PBB harus diselamatkan agar bisa lolos PT 4%, bukan partai yang menyelematkan Yusril. Ini bukan partai untuk kepentingan perorangan, ini partai umat.

Jangan sampai PBB terjungkal bersama Jokowi. Karena PBB bukan Jokowi, PBB adalah Masyumi, dan masyumi itu selalu senafas dengan ulama dan umat Islam. Dan hanya baru Ketua Umumnya Yusril ini PBB meninggalkan umat dan Ulama.

Semoga ini menjadi pelajaran Penting bagi kita semua, agar PBB ini bisa diperbaiki dengan jalan politik, bukan dengan menggunakan cara yang berlaku antara guru dan murid. Karena partai itu bukan ruang kuliah, ini ruang publik, ruang politik yang dibicarakan oleh semua orang, ada yang “enak dan ada yang tidak enak” semua itu harus ditampung.

Itulah harapan saya untuk PBB, dan saran saya kepada Ketua Umum, semoga tidak terlalu reaksional menanggapi urusan pribadi dengan membawa institusi partai. Biarlah PBB menjadi partai yang modernis, yang selalu mengedepankan dialog dengan cara politik yang tinggi (high politics). Tidak dengan cara-cara politik yang rendah, yang mengumpat dan bahkan menjawab yang tidak penting dan jika memang tidak mampu sebaiknya gentleman saja mundur dari Ketua Umum PBB, masih banyak yg berkualitas dan memiliki keberanian serta pemahaman bagaiman menyelamatkan PBB sebagai Partai yang mengusung syari’at Islam…[ASP]

Wallahualam bis shawab.

Like :

3 KOMENTAR

  1. NYALI…!!!
    KETANGKASAN logika YIM secara kualitas tidak bisa menembus batas kekhawatirannya.. krn secara logika.. cara-cara petahana yg sdh menerapkan segala cara baik dan buruk tuk menang sdh bikin YIM YAKIN bhw petahana pasti menang.. krn sgl atribut dan media serta sarana juga prasarana dari pihak petahana, semuanya sdh tertata rapi jd landasan pacu yg betul-betul siap mendudukkan petahana jd PRESIDEN.
    Bagi YIM.. secara usaha maksimal manusia dari pihak petahana sdh sempurna.. smtr infrastruktur dan media pemenangan lawannya msh blm sempurna.. msh kuat di niat tapi kalah dipersiapkan matang..
    Tapi YIM maybe lupa.. sbg mana kasus AHOK.. terbukti bhw “MANUSIA HANYA BISA BERUSAHA SEMAKSIMALNYA TETAPI TETAP ALLAH SWT-lah yang MENENTUKAN..!!! ”

    UMAT ISLAM SAAT INI RUANG GERAKNYA MAKIN SEMPIT.. sering hny tinggal JALANAN LAH SISA MEDIA TUK MEMPERJUANGKAN KEISLAMAN… hg hny kepads-NYA lah kita bersandar…
    Wlopun dg keterbatasan yg YIM tidak mempercayainya makan upaya maksimal umat Muslim hrs bersandar kepada
    ” La Haula Wala Quwwata Illa Billahil Aliyil Adzim “

  2. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Yusril. Dia hanya ingin membuktikan apa yang dikatakan orang bahwa dia berbohong soal ucapan habib Rizieq adalah tidak benar.

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini