Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim. Foto :Istimewa

telusur.co.id – Ikatan Guru Indonesia (IGI) memberikan kritik dan catatan terhadap sistem pendidikan Indonesia.

Catatan ini terkait dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei.

Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim menganggap, secara umum ada tiga hal masalah pendidikan nasional saat ini yang perlu diperhatikan.

“Pertama kurikulum pendidikan kita mutar-mutar, bertele-tele dan tidak tepat sasaran serta beban materi yang terlalu besar, kurikulum kita sudah harus berubah dengan fokus utama pada penyederhanaan jumlah mata pelajaran menjadi 4-5 mata pelajaran di SMP, menghapus jurusan di SMA dan cukup 5-6 mata pelajaran saja,” kata Ramli dalam keterangannya kepada telusur.co.id, Jumat (2/5/19).

Menurut Ramli, bagi yang mau spesialisasi atau jurusan, sebaiknya diarahkan ke SMK. Sebab, kurikulum harus memberi ruang kepada guru untuk berkreasi. Sehingga, guru mampu menjalankan pembelajaran lebih baik dalam upaya meningkatkan invonasi, kreativitas dan kemampuan siswa dalam hal problem solving.

BACA JUGA :  Hari Pendidikan Nasional, IGI Minta Kesejahteraan Guru Diperhatikan

“Kurikulum harus lebih praktis untuk mencapai sasaran, misalnya bahasa inggris harus mampu membuat siswa bercapak bahasa inggris dengan baik, matematika memberikan dasar matematika yang baik dan tidak terlalu tinggi, sains harus lebih mudah diaplikasikan dalam kehidupan nyata,” paparnya.

“Pengetahuan jangan berulang, jangan sampai apa yg dipelajari di SD, kembali diulang di SMP lalu berulang lagi di SMA. Kurikulum SMK harus betul-betul mampu melahirkan siswa yang memiliki skill nyata yang dibutuhkan dunia kerja dan selalu kekinian, jangan sampai apa yang ajarkan di SMK sudah ditinggalkan dunia industri dan dunia kerja.”

BACA JUGA :  "Jokowi, Jangan Bikin Pendidikan Jadi Tidak Menentu"

Kedua, lanjut Ramli, ialah kualitas guru baik dari sisi profesionalisme, padegogik, kepribadian dan sosial masih timpang.

“Ada guru yang sangat bagus tapi lebih banyak yang belum baik, parahnya penempatan guru ini tidak merata, padahal pemerintah sudah memaksa siswa bersekolah di samping rumah mereka dengan sistem zonasi,” jelasnya.

Bagi dia, tidak meratakan kualitas dan kuantitas guru sama saja negara telah mendzolimi anak-anak bangsa ini.

Sedangkan yang ketiga, ialah fasilitas pendidikan belum merata. Sehingga, ada sekolah yang fasilitasnya sudah sangat baik tetapi banyak yang serba terbatas. [asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini