telusur.co.id – Peningkatan pelatihan bagi aparatur pembina dan pendamping koperasi sangat penting dilakukan. Hal itu guna mencegah praktik rentenir berkedok koperasi atau koperasi bodong dengan penawaran investasi ilegal yang masih marak terjadi.

“Pelatihan ini sebagai tindakan preventif untuk memberi edukasi terkait pengelolaan koperasi yang benar. Jika pembina dan pendamping sudah paham,  dapat membagikan ilmu yang diterimanya kepada koperasi di wilayah kerjanya,” kata Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan UKM Rulli Nuryanto dalam keterangannya, Senin (27/5/19). 

Rulli menjelaskan, pemahaman yang baik terhadap perkoperasian dengan sendirinya memberi tanggung jawab bagi pengurus untuk mengelola koperasi secara benar dan sehat.  Koperasi juga akan lebih hati-hati menjalankan usaha yang  tidak sesuai dengan aturan koperasi. Di samping itu,  ketika koperasi yang bertindak di luar aturan masyarakat dapat memproteksi diirnya.  

BACA JUGA :  Menteri Puspayoga Optimis Sektor Produktif Akan Banyak Serap KUR 2019

“Misalnya, ada penawaran investasi dengan imbal hasil yang tinggi, menawarkan pinjaman demgan syarat yang mudah meski tidak menjadi anggota, masyarakat tidak mudah tergiur,” kata Rulli.  

Senada, Kepala Dinas Koperasi dan UKM I Bali, Gede Indra Dewa Putra mengatakan, kasus koperasi bodong di Bali yang sempat marak tahun lalu merupakan pelajaran untuk memperkuat pengetahuan akan perkoperasian.  Kasus tersebut cukup merugikan citra koperasi di Bali dan masyarakat yang jadi korban. 

Diketahui terungkapnya kasus itu menggunakan modus penawaran investasi dengan imbal hasil tinggi oleh lembaga yang tidak berbadan hukum koperasi, namun menggunakan nama koperasi. 

BACA JUGA :  Kemenkop dan UKM Dianugerahi Korpri Award 2018

“Pelatihan ini akan mendorong pembina dan pendamping cepat merespon jika terjadi ada masalah, ” kata Indra.[Far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini