17 APRIL sudah berlalu. Rakyat, sebagai tuan rumah demokrasi sudah menentukan pilihannya. Sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi dan cita-cita konstitusi.

Pada dasarnya, sudah saatnya kita saling merangkul kembali. Meski hari kemaren kita berkompetisi, berbeda dalam pilihan. Karena, perbedaan itu sendiri merupakan prinsip dasar dari demokrasi.

Namun, pemandangan yang terjadi akhir-akhir ini, ada yang tidak siap dengan konsekuensi logis dari pemilihan dan perbedaaan.

Ada yang tidak siap menerima kenyataan yang terjadi. Akhirnya, egoisme dan keserakahan menjadi kiblat dalam setiap aksi. Kebenaran dikebiri. Kebenaran dikesampingkan. Nilai dasar kemanusiaan sirna demi sebuah kepentingan. Aksi-aksi “peremanisme” mulai dipertontonkan. Akal sehat disembunyikan. Bahkan, nurani telah mati. Ilmu pengetahuan sudah tidak punya ruang.

BACA JUGA :  Polri Ajak Lawan Hoaks Demi Pemilu yang Aman, Damai dan Sejuk

Selain itu, manusia mulai kehilangan kemanusiaannya. Manusia melupakan moralnya. Melupakan sejarah dan warna budayanya.

Kita juga dipertontonkan warna keserakahan, keegoisan. Egosentrisme menjadi sajian tiap hari, pasca pesta itu dirayakan.

Marilah, wahai para pelaku demokrasi, bersikaplah dewasa terhadap kenyataaan. Lupakan kepentingan yang sifatnya individualistik. Sudah saatnya kita saling rangkul dan bergandengan tangan, demi kemaslahatan bersama. Apapun bentuk aksi yang sedang kalian pertontonkan, pada ujungnya rakyat yang akan dirugikan.

Teringat ucapan Budayawan Emha Ainun Najib atau biasa disapa Cak Nun, “Jangan mengejar mati-matian sesuatu yang tidak bisa dibawa mati.”

BACA JUGA :  Pendaftaran Peserta Pemilu 2019 Wajib Gunakan SIPOL Untuk Seluruh Parpol

Selamat menunaikan ibadah puasa.[Tp]

Penulis: Lalu M Iqbal (Tokoh Muda NTB)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini