telusur.co.id – Menlu RI, Retno L Marsudi mengungkapkan keberhasilan personil asal Indonesia di MONUSCO, Republik Demokratik Kongo, yang berhasil mengupayakan rekonsiliasi antara komunitas lokal dengan mantan kombatan. Sehingga memungkinkan reunifikasi keluarga.

Demikian disampaikan Retno L. P. Marsudi saat memimpin debat terbuka  Dewan Keamanan PBB  DK PBB dengan tema “Menabur Benih Perdamaian: Meningkatkan Keselamatan dan Kinerja Misi Pemeliharaan Perdamaian (MPP) PBB” di Markas PBB di New York, AS.

“Mayor Gembong beserta tim-nya dari Indonesia berhasil memfasilitasi reunifikasi 422 mantan kombatan, sehingga semakin memperkuat perdamaian,” ujar Menlu Retno kepada DK PBB, dalam keterangannya,  

“Sebelum kita mulai pembahasan, izinkan saya mengucapkan selamat  menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadahan kepada semua umat Islam di dunia.”

Dalam pertemuan tersebut, Menlu RI menyampaikan bahwa pasukan penjaga perdamaian PBB merupakan contoh nyata mengenai kemitraan global, kepemimpinan kolektif dan tanggung jawab bersama untuk perdamaian.

“Korps Baret Biru (Blue Helmets) adalah penjaga perdamaian yang melindungi ratusan juta manusia di seluruh dunia. Mereka adalah wajah Dewan Keamanan PBB, dan salah satu potret kerja sama multilateral yang terbaik,” ungkap Retno.

BACA JUGA :  Zaman Dulu, Tentara Tak Setia Soeharto Mustahil Jadi Brigjen

Menlu RI menegaskan bahwa Indonesia sangat percaya dengan peran pasukan penjaga perdamaian PBB dan perlunya investasi yang cukup untuk mempersiapkan kinerja dan kemampuan mereka di lapangan. Untuk itu, Menlu RI menekankan pentingnya pemajuan pelatihan dan peningkatan kapasitas personil, untuk meningkatkan kinerja, keberhasilan misi, serta keselamatan dan keamanan personil di lapangan.

Menlu RI mengemukakan empat poin penting untuk mewujudkan MPP yang berdaya-guna, yakni: i) Memperhatikan kebutuhan spesifik misi (mission-specific approach), ii) Kemampuan berinteraksi dengan komunitas lokal (community engagement), iii) Pemajuan peranan perempuan, dan iv) Penguatan pelatihan melalui kemitraan global.

Debat Terbuka merupakan signature event Presidensi Indonesia pada Dewan Keamanan PBB. Hadir sebagai pembicara khusus adalah Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres; Komandan Pasukan MONUSCO, Letnan Jenderal Elias Rodrigues Martins Filho; dan Direktur Challenges Forum International Secretariat, Dr. Björn Holmberg.

Penyelenggaraan Debat Terbuka ini tidak terlepas dari rekam jejak Indonesia yang kini berada pada jajaran sepuluh besar negara-negara kontributor MPP PBB. Saat ini, terdapat 3.080 personil Indonesia di 8 misi perdamaian PBB, 106 diantaranya perempuan. Upaya Indonesia ini juga bagian dari dukungan atas inisiatif ‘Action for Peacekeeping’ Sekjen PBB.

BACA JUGA :  Di Thanksgiving, Trump Kiritik Hakim Bikin AS Tak Aman

Indonesia juga menawarkan Pusat Pelatihan Pasukan Perdamaian yang berada di Indonesia untuk dijadikan pusat pelatihan pasukan perdamaian dunia.

​​Sidang telah mensahkan dokumen berupa Presidential Statement, yang menekankan pentingnya pasukan penjaga keamanan PBB sabagai alat paling efektif untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Pernyataan presiden DK PBB secara khusus membahas aspek pelatihan dan peningkatan kapasitas MPP PBB. Dokumen tersebut juga memberikan dukungan terhadap upaya Sekjen PBB untuk mereformasi dan membuat pasukan penjaga perdamaian PBB lebih efektif. Dokumen ini merupakan dokumen DK PBB yang secara khusus mengangkat arti penting training dan peningkatan kapasitas PKO untuk kesuksesan misi menjaga perdamaian dunia.

Debat terbuka DK PBB dihadiri oleh 59 negara termasuk 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, Troops/Police Contributing Countries atau negara kontributor MPP PBB, negara tuan rumah misi, serta organisasi internasional dan kawasan seperti Uni Afrika.[Far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini