telusur.co.id — Perdana Menteri Papua Nugini Peter O’Neill hari ini mengumumkan pengunduran dirinya setelah selama tujuh tahun berada di kursi tertinggi pemerintahan menyusul pembelotan sejumlah tokoh di partai yang berkuasa.

“Saya mengumumkan hari ini bahwa saya mengundurkan diri sebagai perdana menteri negara merdeka Papua Nugini,” kata O’Neill dilansir dari Reuters, Minggu.

O’Neill, yang menyerahkan kendali kekuasaan kepada mantan Perdana Menteri Sir Julius Chan, mengatakan perubahan kepemimpinan itu akan memungkinkan Papua Nugini untuk meneruskan agenda reformasi yang sudah dilakukan.

Ketakstabilan politik sering terjadi di negara Pasifik Selatan itu yang kaya minyak tetapi dilanda kemiskinan dan O’Neill, yang telah menjadi pemimpin sejak 2011, banyak usaha-usaha untuk menjatuhkannya.

BACA JUGA :  Wah, 43 Ranting di Klungkung Mundur dari Hanura, Siap Bedol Desa ke Parpol Lain

O’Neill tetap tidak ingin mengundurkan diri kendati sudah ada seruan-seruan agar mundur selama beberapa pekan tetapi para penentangnya mengatakan pada Jumat mereka telah cukup memperoleh dukungan di parlemen untuk menggulingkannya akibat berbagai ketakpuasan termasuk persetujuan gas dengan Total dari Prancis, yang para pengeritiknya pertanyakan.

Pembelotan dari koalisi yang berkuasa telah terjadi selama beberapa pekan dan pada Jumat sedikitnya sembilan anggota membelot, menurut dua menteri yang termasuk di antara mereka. Para penentang O’Neill perlu mengajak 62 anggota parlemen PNG yang berkursi 111 untuk menyuarakan dia tak lagi sebagai perdana menteri..

BACA JUGA :  Ratusan Kader Nasdem Mundur

Para politisi oposisi mengatakan pada Jumat mereka akan mendorong investigasi di Australia dan Swiss atas pinjaman 1,2 miliar dolar Australia (830,76 juta dolar AS) yang diatur oleh kelompok keuangan UBS jika terjadi perubahan pemerintahan.

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini