Mantan Panglima TNI Purnawirawan Jenderal Gatot Nurmantyo / Net

telusur.co.id – Peristiwa kapal pengawas perikanan Vietnam yang sengaja menabrak KRI Tjiptadi-381 saat sedang patroli menangkap kapal illegal fishing di Laut Natuna Utara, beberapa waktu lalu sempat viral.

Terkait peristiwa itu, Mantan Panglima TNI Purnawirawan Jenderal Gatot Nurmantyo menilai itu wajar dan biasa terjadi.

Hal tersebut disampaikan Gatot ketika menjadi narasumber di acara e-Talkshow yang dipandu oleh Wahyu Muryadi, Jumat malam (3/5/19).

Dalam acara, awalnya Wahyu menayangkan soal viralnya video kapal Vietnam yang menabrak KRI Tjiptadi. Bekas Pemimpin Redaksi Majalah Tempo itu bertanya kepada Gatot terkait kapal yang sengaja menabrak KRI Tjiptadi. Gatot kemudian menjawab jika kapal itu coast guard.

“Kalau dilihat dari bentuknya coast guard,” kata Gatot.

“Kok kurang ajar mereka itu ya?,” kata Wahyu.

Gatot lalu menjawab jika dalam persoalan itu perlu dilihat permasalahannya. Kemudian dia mengatakan jika sebenarnya ada persengketaan wilayah perairan yang hingga kini belum usai antara Indonesia dan Vietnam.

“Ya dikatakan kurang ajar iya, tapi kita perlu lihat permasalahannya dulu. Jadi satu hal bahwa pemerintah Indonesia sama pemerintah Vietnam (soal) wilayah laut itu belum final,” kata Gatot.

BACA JUGA :  Indonesia-Maroko Sepakat Perkuat Kerja Sama Keamanan dan Kemakmuran

Wahyu lantas bertanya soal insiden itu terjadi di perairan Indonesia. “Tapi bukannya di perairan kita pak? Itu klaimnya di perairan kita,” kata Wahyu bertanya.

“Kita merasa demikian, Vietnam merasa demikian juga,” kata Gatot.

Kemudian Wahyu bertanya soal sikap pasukan TNI dan Standar Operasional Prosedur (SOP). Gatot menjelaskan bahwa ada perjanjian kapal kenegaraan tidak boleh ada baku tembak kecuali ada perintah untuk berperang.

“Sikap kita sudah benar karena ada perjanjian internasional, kalau kapal negara, sama-sama kapal negara tidak boleh baku tembak. Ini kan kapal TNI dengan coast guard, kecuali negara mengatakan kita perang,” kata Gatot.

“Sebenarnya kalau di laut hal itu biasa, senggol-senggolan,” kata Gatot melanjutnkan.

Wahyu kemudian menanyakan mengapa kapal TNI KRI Tjiptadi, tidak melawan dengan menyenggol balik kapal coast guard Vietnam itu.

Gatot kemudian mejelaskan jika kapal KRI Tjiptadi adalah kapal parchim dari Eropa timur, yang jika dilihat dari kualitasnya tidak sesuai dengan perairan di lautan Indonesia.

“Kapal kita kapal parchim dari Eropa timur, eks Jerman timur itu tidak layak untuk Indonesia, karena kadar garam di sana sangat rendah, kalau di sini cepat karatan. Kalau kita tabrak bisa kita yang jebol,” kata Gatot.

BACA JUGA :  Alasan Kedaulatan, Indonesia Tolak 53 Visa WN Israel

“Kita yang jebol karena memang karatan itu. Jadi maaf orang Angkatan Laut ya maaf, jadi kapal parchim buatan eks Jerman Timur itu layak berlayar tapi nggak layak bertempur. Tolong Pak Kasad tegur saya kalau saya salah,” kata Gatot.

Tanpa ragu mantan Panglima itu lantas mengatakan jika kekuatan Angkatan Laut Vietnam lebih bagus dibanding Indonesia.

“Tapi Angkatan Udara sama Angkatan Laut, khusunya Angkatan Laut ini dibanding Vietnam, lebih unggul Vietnam,” kata Gatot.

Gatot lalu menerangkan soal prajurit yang ada di kapal Tjiptadi tersebut tidak bisa memberikan tembakan. “Saya tahu psikologi dari prajurit-prajurit Angkatan Laut,” kata Gatot.

“Mereka ingin menembak tapi mereka disiplin, karena tadi dia kapal punya NKRI, ini sama coast guard juga enggak boleh baku tembak, apapun salah, walaupun di perairan kita enggak boleh nembak.” [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini