anggota Brigade Mobil (Brimob) Polri bernama Rizki, saat dirawat di UGD RS Karya Medika 2 Tambun Selatan. Foto : telusur.co.id

telusur.co.id-Banyaknya korban berjatuhan pada Pemilu 2019 ini, terutama para penyelenggara pemilu. Seperti yang dialami Ketua KPU Kabupaten Bekasi, Jajang Wahyudi yang harus dirawat di ruang perawatan RSUD Cibitung, Kabupaten Bekasi.

Begitu pula yang dialami anggota Brigade Mobil (Brimob) Polri bernama Rizki. Usai melaksanakan tugas pengamanan proses penghitungan suara DPRD Kabupaten Bekasi, Rabu (8/5) malam, di GOR Tambun Selatan, dia tiba-tiba pingsan. Diduga, anggota satuan Brimob Polda Jabar itu kelelahan.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 18.30 WIB, itu sempat membuat kaget warga dan anggota Brimob lainnya. Beberapa anggota Brimob yang mengetahui kejadian itu, langsung melarikan Rizki ke rumah sakit terdekat.

Mengenai tidak adanya petugas medis yang bertugas di lokasi penghitungan suara untuk membantu memberikan pertolongan medis, Kepala Puskesmas Tambun dr. Novrizal membantah keras.

“Itu tidak benar,” katanya kepada telusur.co.id, Kamis (9/5) dikantornya. Menurut dia, pada saat kejadian justru pegawai Puskesmas Tambun yang melakukan pertolongan pertama terhadap anggota Brimob dan membawanya ke RS Karya Medika 2 Tambun Selatan.

BACA JUGA :  Diisukan Meninggal, Kesehatan Jajang Berangsur Pulih

Novrizal mengungkapkan, berdasarkan keterangan dari salah satu anak buahnya, usai buka puasa Rizki terjatuh di depan warung dan langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulan.

“Sampai di rumah sakit tensinya normal hasil lab-nya pun normal, lalu disuruh pulang sama pihak rumah sakit (RS Karya Medika 2),” kata Novrizal.

Dikatakan, saat petugas Brimob tumbang, kebetulan petugas medis Puskesmas Tambun sedang berada disampingnya. “Petugas kami yang membawa ke UGD RS Karya Medika 2, bukan ke RSUD Kabupaten Bekasi,” ujarnya.

Setelah dilakukan penanganan medis, kata Novrizal, diketahui jika ambruknya anggota Brimob itu menderita sakit maag. Tapi memaksakan diri untuk tetap puasa sehingga muncul gejala pusing dan kemudian jatuh pingsan.

“Barusan sudah dibawa kembali ke GOR dan dijemput oleh kedua orang tuanya dan membenarkan jika anaknya mempunyai riwayat sakit maag. Kebetulan saya ada di lokasi dan ambulan serta petugas kami yang mengurus masalah ini,” paparnya.

Sementara untuk kasus pingsannya anggota KPPS, Teguh dan Mumun, sehari sebelumnya itu memang diakuinya pihak Puskesmas Tambun tidak berada dilokasi karena peristiwanya terjadi setelah jam 12 malam. Saat petugas posko kesehatan sudah pulang.

BACA JUGA :  Diisukan Meninggal, Kesehatan Jajang Berangsur Pulih

“Seharian kami bertugas di GOR Tambun Selatan sampai pukul 22.00 WIB sesuai kesepakatan antara kami dengan Camat Tambun Selatan. Jadi bohong kalau tidak ada petugas kesehatan dari puskesmas yang tidak standby di area GOR, tempat penghitungan berlangsung,” kata Novrizal.

Lebih lanjut dikatakan Novrizal sedari awal proses rapat pleno penghitungan suara sudah disepakati dengan Camat Tambun Selatan bahwa piket bagi tenaga medis dimulai pukul 08.00 WIB sampai 22.00 WIB. Dari delapan puskesmas yang berada di Tambun Selatan secara bergantian melakukan piket yang berlangsung sejak 17 April hingga 4 Mei 2019. Dan, terpaksa saat ini ditambah empat hari sampai tanggal 8 Mei.

“Menurut saya, dampak proses penghitungan suara sampai lewat jam 12 malam membuat petugas sangat kelelahan. Itu yang membuat banyanya petugas ambruk,” kata Novrizal.[asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini