Sesmenkop Rully Indrawan dan pengurus dan anggota Koperasi Komunitas Mantan Napi Teroris dan Gerakkan Aktivis Radikal Sejahtera (Kontantragis) di Kabupaten Garut, Jabar. Foto: Dok. Kemenkop

telusur.co.id – Koperasi Komunitas Mantan Narapidana teroris dan Gerakan Aktivis Radikal (Kontantragis) menargetkan bisa memasok produk dan memperluas pasarnya ke seribu pesantren di Jawa Barat.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Koperasi Kontantragis Asep H Arsyad Alsadaad dalam keterangannya, Minggu (12/5/19).

“Kami baru bisa memproduksi 5.000 pieces perbulan dan habis dalam waktu singkat. Sementara potensi pasar sangat besar setidaknya ke 1.000 pesantren di Jabar,” kata Asep.

Koperasi yang beranggotakan eks napiter dan mereka yang aktif di gerakan radikalisme itu didirikan di Bandung pada 28 Oktober 2017. Koperasi tersebut, telah menghasilkan produk unggulan kopi, sabun, dan cokelat ke pesantren-pesantren di berbagai daerah di Jabar.

Dikatakan Asep, koperasi yang belum genap dua tahun ini didirikan memiliki peluang yang begitu besar untuk dikembangkan.

“Kami memproduksi kopi, sabun cuci muka zaitan, sabun pembersih lantai atau karbol dari sereh wangi, dan cokelat bubuk,” kata Asep yang mengaku pernah tiga kali berurusan dengan aparat penegak hukum lantaran tersangkut kasus kekerasan dan terorisme.

Menurut Asep, permintaan dan kebutuhan yang ada saat ini masih sangat besar. “Kami terkendala keterbatasan modal dan perlu pendampingan juga pelatihan,” kata Asep yang juga sempat terjun langsung dalam konflik di Maluku dan Poso.

Ia mencontohkan untuk memproduksi 5.000 pcs kopi saja diperlukan modal hingga Rp60 juta. Koperasinya bekerja sama dengan pesantren-pesantren untuk memasarkan produknya.

Pasarnya semakin berkembang lantaran koperasi itu ditumbuhkan dan dirintis di tiga kota sekaligus yakni Kontantragis Sejahtera di Garut,
Kontantragis Bahagia di Tasikmalaya, Kontantragis Damai di Cianjur, dan Kontantragis Eureka di Purwokerto. Komunitas itu juga merintis koperasi serupa di Sumedang, Subang, dan Blitar. “Target kami bisa memasarkan rutin ke 1.000 pesantren‎,” ucapnya.

Ke depan, koperasi tersebut ingin memperluas usahanya ke bidang peternakan burung puyuh yang sekaligus diharapkan menjadi usaha sampingan yang mendorong anggotanya untuk bisa sering berkumpul.

“Selama ini salah satu kendala kami adalah sulitnya anggota untuk berkumpul karena karakteristik anggota koperasi yang berbeda dengan koperasi umumnya,” katanya.[Ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini