Laznas Bali sedang membagikan makanan, berupa nasi bungkus di pinggiran kota Denpasar,Bali./dok pribadi

L

telusur.co.id– Tak banyak pemuda yang tergerak hatinya untuk membantu sesama. Hanya mereka yang berhati mulia yang rela meluangkan waktu dan tanpa pamrih rela memikirkan nasib kaum yang “terpinggirkan’. Laznas Dewan Dakwah Bali dibantu dengan Komunitas Madrasah Relawan Bali memiliki cerita sendiri untuk memperhatikan nasib mereka yang terpinggirkan. Pada hari Jumat (26/04/2019), Laznas Dewan Dakwah Bali dan Komunitas Madrasah Relawan Bali melakukan kegiatan 750 nasi bungkus ke dua lokasi yang berada di pelosok Kota Denpasar. Kegiatan ini diberi nama Semarak yang kependekan dari Sedekah Makan untuk Rakyat.

Lokasi pertama merupakan sebuah komplek pemukiman dibawah angka sejahtera di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Suwung. Letaknya persis di samping pintu masuk menuju pulau Serangan.

Tantangan para pemuda dan relawan dari Laznas Dewan Dakwah Bali dan  Komunitas Madrasah Relawan Bali cukup menarik. Saat matahari begitu terik mereka rela kotor menjejakan kakinya di lingkunga TPA Suwung tanpa malu. Para relawan juga disambut dengan aroma busuk dan kurang sedap di sekita lokasi TPA Suwung.

Hampir seluruh sampah yang dihasilkan warga Kota Denpasar dibuang disini dan membentuk gunungan sampah. Baik itu sampah rumah tangga mapun sampah-sampah hasil limbah industri. Kedatangan para relawan yang hampir sebagian besar anak usia 18 tahunan ini membawa keceriaan bagi anak-anak yang tinggal di kawasan tidak layak ini untuk sebuah hunian. Senyum anak-anak ini membuat para relawan semakin bersemangat membagikan nasi

Yusuf Abdullah, salah satu relawan Laznas Dewan Dakwah Bali mengaku bahwa kegiatan pembagian nasi merupakan program rutin yang dilaksanakan tidak hanya menyambut Bulan Ramadhan, namun setiap Jumat siang secara terus menerus. Bagi pemuda yang disapa Yusuf ini, kegiatan bagi nasi sebagai bentuk kepedulian bahwa pemuda muslim ada membantu untuk kaum yang terpinggirkan

“Kegiatan ini terus dilakukan setiap Jumat tidak hanya saat Bulan Ramadhan saja. Melalui kegiatan ini kami membuktikan bahwa pemuda muslim  peduli dan bergerak untuk kaum dhuafa” jelasnya

Lokasi terakhir syang disasar untuk pembagian nasi adalah para pengungsi yang rumah mereka diluluhlantakan bulldozer akibat sengketa lahan. Para pengungsi inidahulu tinggal di sekitar Pulau Serangan dekat situs sejarah Masjid  Asyuhada. Mereka memilih bertahan tinggal di sekitar areal tempat penggusuran sudah lebih dari setahun. Saat disambangi oleh para relawan para pengungsi disini begitu gembira dan rasa haru tergambar dari senyum di bibir para warga (HAD)

Kontributor : Herdian Armandhani (HAD), Denpasar-Bali

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini