Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan dan Politik Kabupaten Bekasi, Ahmad Kosasih dengan narasumber dalam acara dialog tokoh agama, tokoh masyarakat se Kabupaten Bekasi tetang “Merawat Indonesia"/Dun


telusur.co.id Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 usai, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bekasi menyuarakan ajakan untuk merajut tali persaudaraan antarsesama anak bangsa.

Ketua FKUB Kabupaten Bekasi, KH Athoillah Mursjid, mengajak seluruh elemen bangsa kembali bersatu dan fokus membangun Bekasi, khususnya Indonesia.

Menurut dia, perbedaan pilihan di pilpres lalu tidak boleh diteruskan. Kini, yang patut dilanjutkan adalah persatuan dan kesatuan bangsa. “Tidak ada lagi 01 atau 02, yang ada adalah 03 yaitu persatuan Indonesia,” kata Kiai Athoillah Mursjid, saat membuka dialog tokoh agama, tokoh masyarakat se Kabupaten Bekasi tetang “Merawat Indonesia” di Grand Cikarang Hotel Jababeka Bekasi, kemarin.

Athoillah Mursjid yang juga Sekretaris Umum MUI Kabupaten Bekasi, menyerukan khususnya kepada umat Islam agar dapat kembali menyatukan hati, pikiran, dan langkah untuk menegakkan ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan).

Kepala Badan Kesatuan Kebangsaan dan Politik Kabupaten Bekasi, Ahmad Kosasih mengatakan, acara tersebut dihadiri tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan dan lintas berbagai agama se Kabupaten Bekasi.

BACA JUGA :  PEOPLE POWER, STATE IN EMERGENCY! (Catatan Untuk Ir. Joko Widodo Presiden RI 2014-2019)

Sedangkan narasumber sebanyak empat orang. Diantaranya dari, MUI, Menkopolhukam, pakar/ahli penulis sejarah dan Kesbangpol Provinsi Jawa Barat.

Ahmad Kosasih mengatakan, pasca pemilu 2019, hubungan diantara sesama warga sedikit renggang. Ia berharap jangan ada lagi kerenggangan diantara masyarakat.

“Mari kita bersatu. Kita jaga kebersamaan, persatuan dan kesatuan,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Fitroh Cikarang Pusat, Imam Mulyana mengaku sangat apresiasi atas kegiatan ini. Menurut pandangannya, Kabupaten Bekasi aman, damai dan tidak terjadi apa-apa, selama pemilu berlangsung.

“Perbedaan pilihan itu hal biasa, tapi tetap harus terjalin hubungan yang baik jangan sampai terpecah belah hanya karena beda pilihan,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang narasumber, Lukman Hakiem mengaku senang dapat berpartisipasi dalam Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Pemerintah Kabupaten Bekasi bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bekasi.

BACA JUGA :  Sikapi Pemilu, PC KMHDI Surabaya Keluarkan Panca Sima

“Alhamdulillah, dalam forum yang dihadiri tokoh-tokoh Islam, Katolik, Kristen, Hindu, dan Budha itu saya menyampaikan pikiran bahwa sejatinya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang toleran. Toleransi itu baru terganggu jika ada pihak yang merasa terancam oleh pihak lain. Maka, penting untuk sama-sama menjaga harmoni,” kata dia.

Lukman juga menyampaikan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini dibentuk dari keberbagaian dan perdebatan tajam para pendirinya.

Oleh karena itu, Lukman menganjurkan kepada tokoh-tokoh agama, agar membaca secara saksama perdebatan bermutu tinggi para pendahulu kita sejak di BPUPK, PPKI, sampai di Majelis Konstituante.

“NKRI dan Pancasila, tidak datang dari ruang hampa. Keduanya lahir melalui proses panjang,” tukasnya.

Jika kita melihat lambang Garuda Pancasila, “Ingatlah dalam proses pembuatannya ada nama-nama Sultan Hamid II, Muhammad Yamin, Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Natsir, J. Poulepessi, R. Ng. Poerbotjaroko, serta sejumlah seniman pelukis.

“Semua tokoh itu di bawah arahan Bung Karno dan Bung Hatta memberi konstribusi dalam proses penciptaan lambang negara kita,” pungkasnya.[Gus]

Like :

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini