telusur.co.id — Pendidikan Islam harus dijauhkan dari materialisme. Apalagi, Pendidikan Islam merupakan salah satu pilar utama yang dimiliki Kementerian Agama yang bertanggungjawab mengawal kualitas generasi muda muslim.

Demikian disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin, Caringin, Bogor, KH M. Luqmanul Hakim di hadapan jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag.

KH M. Luqmanul Hakim yang hadir mengisi tausiyah pada acara Buka Bersama di rumah dinas Direktur Jenderal Pendidikan Islam itu mengingatkan pentingnya membentuk generasi muda muslim untuk menjadi umat terbaik (khoiro ummah).

BACA JUGA :  PA 212 Tuntut Polri dan TNI Hukum Para Pelaku Teror

“Dan itu hanya bisa dilakukan jika kita mampu menjauhkan proses pendidikan dari materialism,” terang KH Luqmanul dalam keterangannya, Rabu.

Menurut KH Luqman, untuk menjauhkan gaya hidup materialisme, anak-anak harus diajari tentang makna pendidikan dan kerja keras. “Pendidikan harus dilakukan dengan kerja keras karena pendidikan enak adalah racun. Anak-anak menjadi sangat manja, mudah frustasi, dan berakhir bisa putus dari Allah,” imbuhnya.

Dirinya juga mengingatkan akan bahaya materialisme. Menurutnya materialisme akan menjauhkan manusia pada Tuhan, karena semua hal perbuatan diukur dengan materi. “Padahal ujung dari semua perbuatan tertuju pada Lillah (Allah),” pungkasnya.

BACA JUGA :  Khilafah di Indonesia Bisa Terwujud Bila Disokong Asing

Ia pun mengajak jajaran Ditjen Pendis untuk senantiasa berdoa. “Ada dua doa yang harus selalu kita panjatkan kepada Allah, yaitu agar diberikan ketenangan hati, dan agar diberikan tetap iman,” tutur KH Luqmanul Hakim.

“Orang yang diberi ketenangan hati oleh Allah, dia tidak pernah tersinggung, dan selalu menghadapi masalah dengan mudah. Sementara doa tetap iman agar di akhir hayat kita mampu menyebut Allah,” imbuhnya.[Tp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini