pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedillah Badrun / Net

telusur.co.id – Cara yang dilakukan perusuh membikin keonaran pada pada 21-22 Mei lalu sudah bisa ditebak. Karena, narasi yang dibangun ialah melemahkan para aksi massa agar tak ikut berdemo dengan warning ada penyusup.

Demikian disampaikan oleh pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun kepada wartawan, Senin (27/5/19).

“Untuk mendelegitimasi para demonstran adalah dengan menyebarkan informasi atau citra negatif para demonstran,” kata Ubed, sapaan karibnya.

“Misalnya, menggunakan diksi awas jangan ikut demo ada penyusup, ada perusuh, demonstran perusak fasilitas umum, demonstran bayaran, dan lainnya,” sambungnya.

Tujuan narasi seperti itu, tutur Ubed, agar mereka yang benar-benar memperjuangkan keadilan, demokrasi dan kebenaran mentalnya lemah. Sehingga berhenti berjuang.

Pola semacam ini, kata Ubed, kerap terjadi di Indonesia di setiap episode sejarah kekuasaan, sejak era kolonial hingga kapanpun. Hal itu terjadi ketika keadilan, kejujuran dan kepentingan nasional mulai dibingkai dalam praktik pseudo democracy dan oligarki kolaboratif.

Cara lainnya agar mental para demonstran turun, serta kalang kabut diantara merka ialah juga dengan menciptakan kerusuhan.

“Menciptakan kerusuhan, cara lain untuk mendelegitimasi para demonstran,” tandasnya. [asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini