Pengamat Pemilu, Jojo Rohi. (Foto: telusur.co.id)

telusur.co.id – Pengamat Pemilu, Jojo Rohi, mengaku setuju jika dengan wacana dibentuknya Tim Pencari Fakta (TPF) terkait Pemilu 2019. Hal itu lantaran banyaknya isu dugaan kecurangan dan juga banyaknya korban petugas KPPS yang meninggal.

Namun menurutnya, lebih baik TPF tersebut dibentuk pasca penetapan hasil Pemilu pada 22 Mei 2019 mendatang.

“Menurut saya, memang harus diinvestigasi. Namun, akan lebih baik jika dilakukan pasca penetapan hasil. Jadi setelah semuanya clear, beres, baru boleh mau dibentuk TPF,” kata Jojo di Gedung Juang ’45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/5/19).

BACA JUGA :  Artis Dan Politikus Populer Yang Terancam Gagal Berkantor Di Senayan

Dia pun menjelaskan alasan kenapa TPF tersebut dilakukan pasca penetapan hasil Pemilu. Menurutnya, agar jatuhnya korban meninggal dari petugas KPPS tidak dipolitisir oleh pihak-pihak tertentu.

“Kita ini waktu zaman Ahok mempolitisir jenazah, kalau gak milih Ahok jenazahnya nggak disolatin, nah sekarang kita juga mau melakukan hal yang sama mempolitisir jenazah, ada yang minta diotopsi dan yang lain-lain. Jadi dari Pilkada ke Pemilu persoalan jenazah aja kita urusin, kita politisir,” bebernya.

“Jadi, alangkah tidak sehatnya kita berdemokrasi kalau begini caranya,” tambahnya.

BACA JUGA :  Turba ke Bali, Anis Matta Panaskan Mesin Tatap Pilpres 2019

Karena itu, dia menilai, investigasi memang mesti dilakukan, karena korban 554 nyawa bukanlah jumlah yang sedikit.

“Tapi nanti Pasca penetapan hasil agar kemudian ini tidak carut-marut dengan isu-isu politik yang lainnya. Jadi nanti kasihan juga keluarga dari 500-an petugas KPPS ini mereka merasa kehilangan anggota keluarga, terus kemudian kehilangan itu dipolitisir oleh pihak yang lain. Saya pikir sebagai bangsa yang beradab, kita tidak akan tega untuk melakukan itu,” tandasnya. (Fhr)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini