Mustofa Nahrawardaya / Net

telusur.co.id – Direktorat Siber Bareskrim Polri resmi menahan pegiat media sosial yang juga Koordinator Relawan IT Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Mustofa Nahrawardaya selama 20 hari ke depan. Mustofa ditahan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penyebaran berita bohong atau hoaks.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, selain menahan Mustofa, pihaknya juga telah meminta keterangan sejumlah saksi. Dikatakannya, Mustofa juga telah mengakui perbuatannya menyebar hoaks di media sosial.

“Yang bersangkutan sudah mengakui perbuatannya. Kalau tidak mengakui kan tidak mungkin dilakukan penahanan,” kata Dedi di Mabes Polri, Senin (27/5/19).

BACA JUGA :  Polri Janji Bekerja Profesional Tangani Pemeriksaan Bachtiar Nasir

Dedi menjelaskan, Mustofa telah menyebarkan foto, video dan narasi seolah-olah telah terjadi pengeroyokan terhadap remaja bernama Harun, yang dilakukan polisi. Padahal, kata dia, tidak ada tindakan polisi yang menyebabkan peserta Aksi 22 Mei tewas.

“Perbuatan (penyebaran hoaks) tersebut membuat opini masyarakat dan kegaduhan di medsos. Karenanya penyidik melalui jejak digital secara komprehensif melalui Labfor digital menemukan akun yang menyebarkan konten tersebut adalah akun milik M (Mustofa),” ungkapnya.

Dedi juga secara tegas membantah, bahwa pihaknya sengaja membidik Koordinator Relawan IT Badan Nasional Pemenangan (BPN) Prabowo-Sandiaga ini. Menurutnya, penetapan Mustofa sebagai tersangka sesuai dengan aturan hukum yang ada.

BACA JUGA :  Polisi Tangkap Dua Tersangka Hoaks Server KPU, Dua Lainnya Masih Diburu

“Kemudian dari status orang sebagai saksi menjadi tersangka itu mekanismenya melalui mekanisme gelar perkara. Untuk menentukan dua barang bukti yang cukup itu melalui mekanisme gelar perkara,” jelasnya.

Diketahui, Mustofa ditangkap di rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan pada Minggu (26/5/19) dini hari. Dia ditangkap lantaran diduga menyebarkan kabar bohong melalui Twitter terkait dengan kerusuhan 22 Mei 2019.

Karena perbuatannya, Mustofa dijerat Pasal 14 ayat 1 dan 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau Pasal 28 ayat (2) Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). [asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini