telusur.co.id – Para mantan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam ‘Srikandi Indonesia’ menyatakan menolak gerakan people power, maupun gerakan kedaulatan rakyat, terkait dengan tidak menerima hasil resmi Pemilu.

Aktivis Srikandi Indonesia Vivin Sri Wahyuni mengatakan, upaya pengerahan massa sangat tidak elok dan mengganggu ketertiban umum. Bahkan, dapat membahayakan keutuhan berbangsa dan bernegara.

“Daripada aksi massa yang memicu ketidaktertiban disarankan untuk melakukan gugatan, karena telah tersedia lembaga-lembaga untuk mengadukan hal itu,” ujar Vivin, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/19)

Mantan aktivis LMND ini menilai, sudah selayaknya, berdasarkan peraturan, bila ada pihak yang menganggap terjadi kecurangan serta sengketa Pemilu, maka mekanismenya bisa ditempuh melalui Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Mahkamah Konstitusi (MK).

BACA JUGA :  Relawan RAJA Siap Lawan Hoaks dan Menangkan Jokowi-Amin

Lebih lanjut, Vivin mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terhasut, apalagi terprovokasi dengan hal-hal yang membuat bangsa menjadi pecah.

Senada, mantan aktivis GMNI Widya Almis mengatakan, aksi turun ke jalan hanya demi untuk memaksakan kehendak hanya akan menjadikan perpecahan.

Ia berharap, pihak yang kalah dalam konstestasi demokrasi, harus mampu berjiwa besar, tidak memaksakan kehendaknya.

“Jadi, jangan terus menjadikan masyarakat terpolarisasi dengan hasutan-hasutan kepada masyarakat, jadilah berjiwa besar,” tandasnya.

Srikandi Indonesia merupakan kumpulan mantan aktivis mahasiswa perempuan dari berbagai organisasi. Selain Vivin (mantan aktivis LMND) dan Widya (mantan aktivis GMNI), anggota Srikandi Indonesia antara lain Lidya Natalia Sartono (mantan aktivis PMKRI), Betariani Saraswati (mantan aktivis KMHDI), Irma (mantan aktivis PMII), Ifda Hanum (mantan aktivis HMI) dan Desy Datum (mantan aktivis GMKI).[Ham]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini