Abdullah Hehamahua. Foto :Istimewa

Bagi Keluarga Besar Dewan Dakwah, nama Abdullah Hehamahua (bang Dul/bang Duloh) tidak asing. Sebagai salah seorang murid pak Natsir, kiprah dan kontribusinya tercetak kuat dalam ingatan semua generasinya dan generasi berikutnya. Termasuk saya sebagai cucu murid ideologis Natsir menerima ilmu dan tempaan dari beliau sebagai murid ideologisnya pak Natsir.

Sebenarnya saya tidak intens bertemu dan berdiskusi dengan beliau sehubungan dengan jarak dan kesibukan beliau. Tapi pertemuan yang jarang terjadi justru setiap pertemuannya menjadi sangat penting dan membekas. Pewarisan nilai dan ruh juang yang beliau lakukan selalu menghadirkan suasana penuh heroik dan membuncahkan semangat khidmatul ummah yang amat kuat.

Ada satu moment di pertemuan terakhir dengan beliau saat Majlis Kajian Dewan Dakwah menyelenggarakan diskusi terbatas kader-kader senior Natsir. Beliau protes karena minuman botol mineral yg dihidangkan bermerk Aq**. Beliau minta minuman diganti. Beliau katakan; “Bagaimana bisa kita sekarang membicarakan cara menghadapi makar orang kafir sementara kita masih mengkonsumsi produknya orang kafir.”

Dari perkara “kecil” itu saja kita dapat menilai standar moral dan integritas seorang Abdullah Hehamahua. Meskipun sebenarnya staf di bawah hanya khilaf saja membeli minuman tersebut. Tetapi kasus itu bagi beliau bukan hal yang sederhana. Itu fundamental!

Saat terbit buku Antara Dakwah dan Politik Januari 2018 menyambut Setengah Abad Dewan Dakwah, salah satu sumbangan tulisan yang paling menarik minat saya adalah tulisan bang Dul. Beliau menulis artikel dengan judul; Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Mohammad Natsir dan Masa Depan Umat Islam Indonesia.

Salah satu bagian artikelnya yang kemudian menjadi salah satu bahan penting materi ceramah saya di banyak tempat terutama di hadapan generasi muda, bang Dul tuliskan di bagian itu bahwa tahun 2045, Indonesia memasuki usia 100 tahun merdeka. Umat Islam sedunia, termasuk di Indonesia, pada waktu itu memasuki tahun 1471 H. Jika ditakdirkan, riwayat yang mengatakan umat Islam tidak akan sampai pada akhir abad ke 15 H, shahih, maknanya tahun 2050-an merupakan tolok ukur, apakah negara Indonesia, masih eksis atau tidak. (Hal.71)

BACA JUGA :  Dituding Mendelegitimasi Ulama, Dewan Da'wah Sampaikan Surat Terbuka Buat Yusril

Menurutnya, sesuai fenomena dan data yang ada, tahun 2050-an, Indonesia berada di empat kemungkinan, yaitu:

  1. Indonesia Hilang dari Peta Bumi. Allah menurunkan azab kepada penduduk Indonesia berupa bencana alam dahsyat akibat kemaksiatan dan kemunkaran yang dilakukan oleh penduduknya.
  2. Indonesia Menjadi Beberapa Negara Baru. Hal ini akan terjadi akibat ketidak puasaan daerah kepada pusat dan ketidakmampuan pemerintah mengelola negara dengan baik dan professional. Selain juga oleh rongrongan dari negara-negara besar.
  3. Indonesia Menjadi Jajahan Super Power. Indikasi hal itu akan dan bahkan sedang terjadi adalah: penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan sangat banyak, utang luar negeri sangat besar, aset-aset negara tergadai ke negara lain dan sektor-sektor penting yang berkaitan dengan hajat hidup masyarakat dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.
  4. Indonesia, Masyarakat Madani. Indonesia menjadi negara yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Hal itu akan terwujud apabila terjadi proses besar pemurnian aqidah umat, hijrah pola hidup, penyatuan hati, menjadikan Masjid sebagai markas perjuangan, membangun dan mengembangkan ekonomi Syariah, dan berjihad di jalan Allah.

Itulah ringkasan empat kemungkinan yang dipaparkan bang Dul dalam sumbangan tulisannya yang cukup panjang di buku tersebut.

Tahun 2030-an, Indonesia akan mengalami ledakan demografi atau bonus demografi yang besar. Dimana 60% lebih penduduk Indonesia adalah generasi muda. Generasi usia menjelang matang dan produktif yang akan mengambil peran kepemimpinan bangsa di semua sektor. Dan mereka itu adalah anak-anak remaja kita saat ini. Kondisi anak-anak kita saat ini adalah cerminan mereka sebagai pemuda di masa depan.

BACA JUGA :  Aksi Kawal MK di Patung Kuda Masih Sepi

Pendidikan, arahan, bimbingan, pelatihan dan persiapan kita menjadikan mereka calon pemimpin di masa datang akan sangat menentukan kiprah mereka pada saatnya nanti. Apabila kita harus jujur menyaksikan bagaimana umumnya kondisi anak muda kita saat ini sepertinya kita tidak begitu yakin akan masa depan yang gemilang bangsa kita. Perilaku kenakalan dan kejahatan remaja menggurita. Pemimpin negara abai terhadap pembinaan generasi bangsa. Para pemimpin tidak amanah. Orangtua terlena dengan kesibukan dan kesenangan pribadinya masing-masing. Pelajar dan Mahasiswa lemah mentalitasnya, mereka tidak peduli dengan kondisi bangsa dan negaranya. Kondisi-kondisi memprihatinkan ini jika tidak cepat disadari dan ditangani maka kita hanya akan menyaksikan masa depan bangsa dipimpin oleh orang-orang yang tidak lebih baik dengan para pemimpin saat ini.

Keprihatinan inilah yang membuat bang Dul “memaksakan diri” harus turun gunung. Demi menyelamatkan generasi. Menyelamatkan bangsa dan negara. Saat Mahasiswa sebagai generasi muda terlena, terbuai dan tertidur. Bang Dul menunaikan tugas kehambaannya untuk terus menanam asa dan menancapkan tunas optimisme untuk Indonesia yang lebih baik dan beradab.

Terngiang selalu difikiran beliau Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tercinta, ” Jika Kiamat terjadi sementara di tanganmu masih ada bibit Kurma, dan jika kamu masih sempat menanamnya sebelum Kiamat itu terjadi, maka tanamlah!

Beliau menanam asa saat ini, memimpin perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran di usianya yang tidak lagi muda, untuk dipetik nanti buahnya oleh generasi selanjutnya meskipun beliau sadar bisa jadi tidak dapat ikut menikmati manis buah perjuangannya itu.[gus].

Bang Dul, masukkan aku dalam daftarmu!

Akhukum fillah
Wildan Hasan

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini