Rusdianto Samawa/Dok Pribadi

By: Rusdianto Samawa, Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

Semasa masih aktif di Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) periode 2010 – 2012, saya bertemu Abdullah Hehamahua tahun 2010 di Aula Auditorium Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Saat itu acara kegiatan “Semiloknas IMM Se-Indonesia” yang dihadiri oleh seluruh pengurus daerah.

Interaksi dengan Abdullah Hehamahua sangat dekat. Karena, saya sendiri sejak awal kebagian kepanitiaan seksi: komunikasi dan informasi. Selama berkomunikasi untuk memastikan kegiatan. Ada banyak nilai idealisme dan nasionalisme dari seorang Abdullah Hehamahua.

Dulu bilang ke saya, semasa ketemu: “Ya dek, saya datang sendiri, tidak usah dikasi apa-apa, baik itu pigura, uang duduk, maupun transport. Nanti saya datang sendiri ya.” Itu katanya setelah diberikan surat undangan semiloknas.

Kemudian ia bertanya: “apa tema yang diangkat?.” Kawan saya menjawab, Ahmad Baits Diponegoro, asal Cirebon: “materinya tentang masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia.”

Lalu Abdullah Hehamahua menjawab: “Baik dek, saya akan hadir tepat waktu. Tidak usah dijemput ya. Saya datang sendiri.”

“Ya, tentu. Teman-teman masa itu serasa kaget, tumben ada pejabat seperti itu. Tetapi, teman-teman sendiri masa itu memahami kalau etika pimpinan KPK memang tidak menerima apapun.” Begitu cara kita pahami dalam diskusi kecil diatas taksi Blue Bird, dari Kuningan ke Menteng.

Tiba waktu kegiatan: “pembicara yang lain malah terlambat. Termasuk rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) saat itu, terlambat. Ada juga anggota DPR, terlambat. Namun, seorang Abdullah Hehamahua menepati janjinya datang pada malam hari sebelum kegiatan pada pagi hari. Tepat jam: 07.00. Peserta belum hadir, pimpinan IMM belum hadir juga. Tapi Abdullah Hehamahua hadir tepat jam: 07.00 pagi karena acara pembukaan di undangan Jam: 08.00 pagi.

BACA JUGA :  IMM Sowan Ke MPR, HNW Singgung Soal Moral

Perkiraan umur masa itu 60 tahun. Namun masih kuat dan energik. Disela – sela duduk, sebelum resmi menjadi pembicara. Saya kembali salaman, berbicara menanyakan kabar kesehatan dan perjalanannya.

Ya, datar dan biasa saja jawabannya: “sehat-sehat saya, lagi berpuasa sunnah. Perjalanan kesini ya biasa juga, banyak hal yang kita bisa lakukan.” Begitu jawabannya.

Kemudian, setelah acara pembukaan seminar terlebih dahulu. Pembicaranya: “Abdullah Hehamahua, Ton Abdillah Has, Ibrahim Sakti Batubara (tak hadir), Agus Sani Rektor UMSU dan Hazuarli Has (Fokal IMM). Moderator: Ahmad Baits Diponegoro.”

Khusus isi pembicara: Abdullah Hehamuhua, bahwa: “Bangsa dan negara ini sudah gila dan sakit jiwa. Korupsi dimanapun bisa ditemukan. Transaksi kecil-kecilan jyga korupsi. Apalagi yang besar.” begitu katanya dalam forum yang dihadiri oleh kader IMM seluruh Indonesia itu.

Lanjutnya: “Sala satu contoh, ada yang perokok disini?. tanyanya. Peserta menjawab: “ada.” Lalu dia berkata: “bagi perokok semua sakit jiwa dan negara ini sudah sangat akut sakit jiwanya.” Semua peserta yang perokok merasa getir dan kaget atas pernyataan itu.

Tak lama, beliau melanjutkan: “Kenapa perokok sakit Jiwa?. Ya sakit jiwa, karena dibungkus rokok itu sudah tertera dilarang merokok karena dapat menyebabkan sakit paru-paru, kangker, lemah jantung dan impotensi.” Begitu katanya.

Peserta baru mengerti dengan anekdot Abdullah Hehamahua. Termasuk saya sendiri, setelah mendengar analogi itu, saya langsung berhenti merokok dan saya tak mau menjadi orang sakit jiwa. Akhirnya, sejak 2010 saya berhenti merokok. Tetapi, sahabat saya Bung Muhammad Sukron lebih dahulu berhenti merokok.

BACA JUGA :  IMM Sowan Ke MPR, HNW Singgung Soal Moral

Dari anekdot itulah, banyak mengambil pelajaran, baik kondisi negara maupun kondisi individu warga negara Indonesia.

Sentilan bernas Abdullah Hehamuhua juga dalam seminar itu, yakni: “Ketika rakyatnya sakit jiwa: boros, korupsi dan nepotisme. Negaranya juga akan demikian. Bisa jadi masa – masa mendatang keadilan dan kebenaran tak lagi dijunjung tinggi. Inilah masa sulit Bangsa Indonesia, seperti orang perokok yang sudah dilarang tapi masih melakukannya.” Begitu katanya

Bisa jadi, Abdullah Hehamahua menunjukkan giroh perjuangan menjadi korlap aksi saat ini untuk menuntut keadilan di Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang gugatan, juga karena panggilan nurani. Sesuai apa yang diungkapkan diatas: “Demi tegaknya kebenaran dan keadilan.”

Lanjutnya dalam seminar itu, kata penutup: “Ya, bisa jadi negara – negara di dunia, mulai dari konstitusi, UUD-nya dan Hukumnya dibuat dan dijalankan oleh orang-orang sakit jiwanya, yakni: “jiwa senang kolusi korupsi dan nepotisme, jiwa senang berbohong, jiwa permusuhan, jiwa perpecahan dan jiwa lain sebagainya. Ya, bisa jadi jiwa – jiwa itulah yang bertebaran di Indonesia.” Tutupnya

Semoga saja bukan terjadi di Indonesia, semoga Indonesia selamat dari ancaman penjajahan dan segera hadirnya keadilan dan kebenaran. Insya Allah. Amin.

Abdullah Hehamahua, membuat malu kaum muda Indonesia yang menjadi penonton dikala dunia politik dan sistem kekuasaan Indonesia sedang sakit jiwa.[***]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini