pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubeidilah Badrun./Net

telusur.co.id – Kubu Jokowi-Ma’ruf Amin diharapkan tak memberi “angin segar” kepada partai politik di kubu koalisi Prabowo-Sandi untuk bergabung. Sebab, bila dipaksakan dengan koalisi gemuk, akan berpotensi membuat demokrasi di Indonesia tidak sehat, lantaran tak ada oposisi.

Demikian disampaikan oleh pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubeidilah Badrun, Selasa (25/6/19).

“Demokrasi itu akan berkualitas kalau ada oposisi. Jadi nggak bisa juga dipaksain Prabowo dengan koalisinya bergabung dengan 01. Nggak apa-apa biarkan mereka jadi oposisi. Sehingga Demokrasi dan pemerintah jadi berkualitas,” kata Ubed, sapaan karibnya.

BACA JUGA :  Ancaman Pembunuhan Terhadap Empat Tokoh Nasional Hanya 'Dramaturgi'

Ubed juga menyoroti terkait berkembangnya wacana rekonsiliasi antar kedua kubu. Menurut Ubed, makna rekonsiliasi itu ialah jika ada yang berkonflik. Sedangkan Pemilu dan Pilpres itu hanya sebuah kontestasi, bukan konflik.

Selain itu, tegas Ubed, bila rekonsiliasi yang dimaksud ialah merangkul Prabowo-Sandi dengan memberikan jatah kekuasaan, maka itu adalah sesuatu yang salah.

“Kalau rekonsiliasi dimaksud kan ngajak Prabowo masuk dalam kabinet itu keliru salah. Justru itu merusak demokrasi, ancur-ancuran. Krn tidak ada kelompok kritis,” tegas Ubed.

Pemerintah, kata dia, akan jadi lebih bagus kalau ada kelompok kritis. Sehingga oposisi, sesungguhnya penting untuk membuat negara lebih maju. “Kalau nggak ada oposisi nggak ada kritik,” tandasnya. [asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini