"Kecurangan bagian dari Demokrasi, matamu Picek!!! -Arek Suroboyo-". Foto :telusur.co.id

telusur.co.id – Para massa aksi yang mengawal putusan final sengketa Pilpres 2019 oleh Mahkamah Konsitusi (MK) terus berdatangan ke seputaran Patung Kuda Arjuna Wiwaha.

Orator, di atas mobil komando, meminta para massa aksi untuk memfoto semua kegiatan unjuk rasa. Tujuannya, agar mereka yang belum datang bisa hadir untuk meramaikan aksi.

“Ayo bapak-bapak, ibu-ibu angkat handphone nya, foto semuanya agar para tetangga hadir ke sini,” teriak orator di atas mobil komando, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/19).

Di atas mobil komando juga ada mantan penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua dan KH. Abdullah Rasyid Syafi’i.

Massa yang hadir mengawal putusan MK tersebut membawa puluhan bendera Merah Putih. Tak terkecuali spanduk, poster dan lainnya.

Ada yang menarik dari tulisan spanduk yang dibawa para massa aksi. Spanduk tersebut terbentang dan dibawa para massa aksi sekitar 5 meter dari mobil komando dan dibelakang puluhan bentangan sang Dwi warna, bendera Merah Putih. Dalam poster itu mereka mengaku dari Surabaya, Jawa Timur.

“Kecurangan bagian dari Demokrasi, matamu Picek!!!
-Arek Suroboyo-“.

[asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini