Prof. M. Din Syamsuddin - Ketua Dewan Pertimbangan MUI . Foto :Istimewa

telusur.co.id – Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin mengatakan, peristiwa tanggal 22 Mei sebagai reaksi terhadap penetapan hasil Pemilu oleh KPU yang oleh sebagian rakyat dianggap tidak jujur dan adil sungguh memprihatinkan.

“Belasan nyawa, termasuk berusia remaja, hilang sia-sia, dan ada yang belum diketahui nasibnya. Hal ini, tidak bisa tidak, adalah buah dari kekerasan yang mengenaskan yang terjadi pada bulan suci Ramadan,” ungkap Din, Minggu.

Seyogyanya semua pihak, baik rakyat maupun aparat, dapat melakukan pengendalian diri sebagai esensi ibadah Ramadan.

BACA JUGA :  Din Syamsuddin : Kolaborasi Rusia-Dunia Islam Jadi Kekuatan Efektif Dunia

Namun nasi telah menjadi bubur. Kekerasan telah menciderai kesucian Ramadan. Lebih parah lagi jika kekerasan fisik yang telah menimbulkan korban itu masih berlanjut pada kekerasan verbal dalam bentuk saling menyalahkan, bahkan dengan saling melempar tuduhan, dengan klaim akan kebenaran secara sepihak. Inilah awal dari malapetaka kebangsaan.

Maka, tiada jalan lain untuk mengatasinya kecuali negara harus hadir menegakkan keadilan dan kebenaran. “Jangan sampai negara abai, dan meluncur menjadi negara kekerasan dengan menampilkan kekerasan negara (state violence).”

“Untuk itu perlu dilakukan tabayun melalui Tim Pencarian Fakta. Kalau tidak, Tragedi Ramadan 2019 ini akan menjadi lembaran hitam dalam kehidupan kebangsaan kita,” sebut Din.

BACA JUGA :  Wantim MUI: Penggunaan Nama Binatang kepada Pendukung Capres Turunkan Martabat Manusia

Din pun mengingatkan, jika TPF dibentuk untuk mengungkap kebenaran yang terjadi pada saat kerusuhan.

“Inilah saatnya keadilan dan kebenaran ditegakkan. Kalau tidak, Allah Yang Maha Adil akan menegakkannya, kalau tidak di dunia maka pasti di akhirat nanti,” tandasnya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini