Konferensi Pers Forum Ummat Islam Jatim di Surabaya, Jatim, Minggu (2/6/19). Foto: Dok. FUI untuk telusur.co.id

telusur.co.id – Forum Umat Islam (FUI) Jawa Timur menyampaikan kegelisahannya terkait dengan dinamika politik nasional pasca Pemilu Serentak 2019 yang sempat sempat memanas.

Perwakilan FUI Jatim Prof. Daniel Rasyid mengungkapkan, umat muslim sebagai stakeholders terbesar NKRI kerap diposisikan sebagai musuh negara, anti-Pancasila, radikal dan intoleran.

“Kami menolak fitnah ini. Rakyat muslim Jawa Timur sebagai mayoritas masyarakat NKRI selama 50 tahun lebih telah berhasil membuktikan Indonesia sebagai negara yang aman dan damai dalam kebhinnekaan,” tegas Daniel dalam keterangan yang diterima Redaksi, Senin (3/5/19).

BACA JUGA :  Empat Tuntutan FUI Jatim: Tolong Jangan Tangkap Ulama dan Aktivis Muslim

Menurut dia, gelagat perpecahan yang kini terjadi, merupakan hasil dari narasi yang dibangun untuk membenturkan antara umat muslim dan umat beragama lainnya di Indonesia. Daniel menduga, ada gerakan neo-komunisme yang kini sedang beroperasi di Indonesia untuk memecah belah rakyat Indonesia.

Dijelaskannya, Pilpres 2019 ini telah mengakibatkan polarisasi yang tajam antara pendukung. Bagi dia, polarisasi ini dimulai sejak kampanye yang diwarnai oleh banjir hoaks yang pada akhirnya diduga menguntungkan pasangan calon tertentu. Calon ini memiliki semua akses untuk memanfaatkan sumberdaya politik, anggaran dan birokrasi bagi keuntungan elektabilitas.

BACA JUGA :  Empat Tuntutan FUI Jatim: Tolong Jangan Tangkap Ulama dan Aktivis Muslim

“Akibatnya adalah bagi Kami sulit mengatakan bahwa Pilpres 2019 telah berlangsung secara jujur dan adil,” tandasnya.

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini