telusur.co.id – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama stakeholder peternak ayam ras menargetkan, dalam waktu 7 hari harga ayam hidup/Live Bird (LB) naik dan stabil sesuai harga acuan Kemendag.  Karenanya, Amran meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan untuk dapat menelusuri pemicu rendahnya harga LB di farm gate yang masih jauh di bawah harga acuan dan terjadi disparitas yang tinggi antara harga produsen dan konsumen.

Berdasarkan pantauan petugas PIP Peternakan harga rataan LB per kg di Jawa pada tanggal 18 Juni 2019 adalah Rp. 13.182, dengan harga terendah Rp.8.500 di Kab. Blitar Jatim. Berdasarkan data PIHPS yg diterbitkan oleh BI, harga rataan per kg daging ayam pada 18 Juni 2019 di konsumen rata-rata di Jawa Rp. 32.450, bahkan di pasar DKI Jakarta mencapai Rp. 45.000.

Amran mengungkapkan untuk menyelesaikan rendahnya harga LB, Kementan telah mengundang secara maraton para pelaku perunggasan, pakar, dan unsur pemerintahan terkait untuk membahas situasi dan solusinya. 

“Ada disparitas harga yang sangat tinggi antara harga dari peternak dan harga di tingkat konsumen. Hal ini menandakan ada sesuatu yang salah, sehingga Kami minta Satgas Pangan melacak oknum yang bermain dalam situasi ini, dan Kami minta beri sanksi yang seberat-beratnya,” jelas Amran dalam keterangannya, Rabu (19/6/19).

“Kita akan menambahkan anggota satgas pangan untuk mencari pihak-pihak yang bermain dalam situasi penurun harga LB karena telah meresahkan peternak” lanjutnya.

BACA JUGA :  Kementan Optimis Upsus Siwab Tingkatkan Swasembada Daging Sapi

Ia kemudian menjelaskan harga ayam LB seharusnya stabil. Produksi perunggasan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, sebagai contoh produksi daging ayam di Indonesia pada tahun 2018 adalah 3,6 juta ton, dan rata-rata meningkat 3,74% setiap tahunnya. Adapun konsumsi daging ayam di Indonesia pada tahun 2018 adalah 3,1 juta ton, berarti masih ada surplus/cadangan sebesar 305.127 ton. 

Bagi dia, ini merupakan peluang untuk bisa ekspor ke Luar Negeri Tahun 2018, Kementan telah mengekspor komoditas pertanian termasuk didalam komoditas peternakan yaitu DOC sejumlah 3,4 ton senilai 45.815 USD dan Telur Tertunas (HE)  sejumlah 46 ton senilai 768.343 USD. Sedangkan, ekspor produk olahan unggas, (berdasarkan laporan perusahaan), tahun 2018, ekspor olahan unggas ke Jepang sekitar  18 ton, Timor Leste sebanyak 29,4 ton dan PNG mencapai 30,8 ton.

                                                                                                                                                                                            Amran menambahkan, berdasarkan Perpres Nomor 45 Tahun 2015 Pasal 3 a dan b fungsi Kementan adalah perumusan, pelaksanaan, dan penetapan kebijakan di bidang penyediaan prasarana dan sarana pertanian, peningkatan produksi padi, jagung, dan kedele, tebu, daging, dan pertanian lainnya, serta peningkatan nilai tambah, daya saing dan mutu, dan pemasaran. 

BACA JUGA :  Kementan Optimis Swasembada Daging Sapi Pada 2026 Akan Terwujud

“Namun terkait situasi rendahnya harga LB ini, Kementan ikut berkontribusi untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut” imbuh Amran. 

Amran berharap situasi perunggasan saat ini bisa secepatnya diselesaikan, Kementan kembali akan mengundang rapat koordinasi terkait unggas dengan menambahkan unsur KPK, Kejaksaan, Kepolisian, dan KPPU, sehingga dapat menemukan faktor penyebab rendahnya harga LB di tingkat peternak agar dapat ditindak secara tegas sesuai hukum yang berlaku.

“Kementan telah berhasil memberantas mafia beras, jagung, dan bawang, kedepan mafia ayam juga kita sikat dan berantas”, tegas Amran.

Sementara itu pewakilan peternak ayam, Alvino manyambut baik dan mendukung rencana Menteri Pertanian untuk memberantas mafia ayam ini. “Kami berharap Menteri pertanian memberikan perlindungan agar peternak rakyat (mandiri dan UMKM) mendapat tempat yang luas dalam budidaya ayam ras,”tuturnya.[Far]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini