Ilustrasi Ondel - ondel

telusur.co.id – Keberadaan pekerja anak merupakan kondisi terburuk dari pengabaian akan hak anak. Karenanya, seluruh dunia menentangnya dan menjadikan 12 Juni sebagai hari Setop Pekerja Anak dunia. Pemerintahan Indonesia pun mencanangkan Juni sebagai bulan kampanye menentang pekerja anak.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak GENERASI (LPA GENERASI) Ena Nurjanah menilai, permasalahan pekerja anak sesungguhnya menjadi pekerjaan lintas sektoral dari berbagai instansi baik pemerintahan pusat dan daerah. Sebab, semakin banyak pihak yang terlibat, maka penanganan pekerja anak akan semakin cepat teratasi.

“Karena, adanya kesamaan visi dalam penyelesaian pekerja anak sehingga memudahkan untuk saling berkoordinasi,” kata Ena dalam keterangannya, Kamis (13/6/19).

Namun, lanjut Ena, kondisi ini juga bisa menjadi sebuah kelemahan. Sebab, masing-masing pihak saling mengandalkan yang lain dalam melakukan penanganan pekerja anak.

“Merasa pihak yang satu lebih bertanggung jawab atau masing-masing menganggap sudah ada yang melakukannya, yang berdampak pada masalah pekerja anak justru terabaikan begitu saja. Pada akhirnya, target tahun 2022 Indonesia bebas pekerja anak hanya utopia belaka,” sesalnya.

BACA JUGA :  GENERASI Dorong Isu Hak Anak Dimunculkan di Pilpres

Kondisi yang patut disoroti dari Hari Stop Pekerja Anak saat ini, terutama ditemui di daerah pinggiran dan kota-kota penyangga Jakarta termasuk wilayah Depok, adalah masih banyak anak-anak yang turun ke jalan untuk menjajakan dagangan mereka di banyak perhentian lampu lalu lintas.

“Mereka tidak lagi sekedar hanya meminta-minta tetapi mereka berjualan. Hal lain yang juga patut dicermati adalah hampir setahun belakangan ini, semakin marak keberadaan atraksi ondel-ondel yang dilakukan oleh anak-anak untuk mendapatkan uang,” bebernya.

Padahal, tutur Ena, Jakarta telah menetapkan peraturan larangan ketat mengenai keberadaan para peminta-minta, termasuk atraksi ondel-ondel ini. Dampaknya saat ini, mereka beralih ke wilayah Depok dan sekitar pinggiran Jakarta dan wilayah penyangga Ibu Kota.

BACA JUGA :  Generasi Minta Kepolisian Segera Usut Tuntas Kasus Penculikan Anak

“Hampir setiap hari ondel-ondel yang di arak oleh anak-anak ini berjalan di sepanjang jalan raya. Mereka dengan sangat berani berjalan melewati kendaraan di jalan-jalan raya dan menyodorkan kaleng ke pintu-pintu mobil untuk meminta uang.”

Padahal, hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak anak, karena membiarkan mereka bekerja dengan kondisi yang membahayakan keselamatannya.

Na’asnya, kata Ena, tidak terlihat lagi penanganan serius terhadap keberadaan ondel-ondel yang sebagian dilakukan oleh anak-anak ini. Sehingga keberadaannya pun justru semakin banyak.

Oleh karena itu, menurut dia, peran pemerintah seharusnya sangat jelas dan tanggap terhadap keberadaan para pekerja anak ini.

“Koordinasi lintas sektor dan lintas pemerintahan harus kembali terbangun demi pemenuhan hak-hak anak yaitu terbebas dari dunia pekerja,” tandasnya. [asp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini