Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit .Foto: telusur.co.id/Fahri

telusur.co.id – Pakar ilmu politik, Arbi Sanit mengatakan, Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN) melanggar etika dalam berpolitik jika akhirnya memutuskan merapat ke kubu Joko Widodo (Jokowi).

“Melanggar etika itu, gak etis. Kan dia (Demokrat dan PAN) sudah termasuk kelompok oposisi, nomor 02, lah tiba-tiba keluar dan masuk ke nomor 01,” kata Arbi saat dikonfirmasi, Senin (10/6/19).

Dia mengungkapkan, seharusnya Demokrat dan PAN tetap solid dalam koalisi 02 hingga lima tahun ke depan dan bukan menjadi ‘kutu loncat.’ Apakah proses belum selesai atau tidak, menurutnya, kedua partai itu tidak seenaknya berubah haluan kepuar dari koalisi.

BACA JUGA :  Sindir Pidato Jokowi Berapi-api, BPN: Pernyataan Orang Yang Sadar Kalah

“Dia (Demokrat dan PAN) sampai 2024 harus nomor 2 terus, itu etikanya karena dia sudah pilih. Memilih 2019 itu berarti selama 5 tahun yang akan datang posisi politiknya disana, dia gak bisa main kutu loncat,” ujar Arbi.

“Kutu loncat itu adalah kebiasaan Golkar orde baru karena mau cari selamat. Sekarang mau cari selamat apa? Kan semua bebas. Kecuali nafsu berkuasa mengalahkan etika, rasa malu, mengalahkan kepribadian, mengalahkan kehormatan, kalau begitu bisa saja jadi kutu loncat kapanpun,” pungkasnya. (ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini