´╗┐Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen / Net

telusur.co.id – Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen sudah tidak asing lagi di dunia militer. Saat menyandang status sebagai mahasiswa jurusan Kedokteran di Universitas Islam Sumatera Utara, Kivlan dikenal sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi. Kivlan tercatat menjadi sekretaris Himpunan Mahasiswa Islam cabang Medan dan Ketua Departemen Penerangan Kami Medan pada 1965. Selain itu, ia juga aktif dalam Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI).

Namun, pria kelahiran Langsa, Aceh 24 Desember 1946 itu harus menghentikan kuliahnya lantaran ia sekolah militer di Akademi Militer (Akmil) Magelang dan lulus pada 1971. Ia memulai karirnya di kesatuan Infanteri, Kostrad, Angkatan Darat, sebagai Komandan Peleton saat usianya menginjak 27 tahun.

Tiga tahun kemudian, ia dan timnya berhasil meringkus Organisasi Papua Merdeka (OPM), dan bertugas di Timor-Timur (sekarang Negara Timor Leste).

Karirnya yang cemerlang, membuatnya menduduki berbagai posisi strategis, seperti Kepala Staf Brigade Infanteri Linud 1/Cilodong/Kostrad (Kasdivif I Kostrad) dengan pangkat Kolonel pada tahun 1990, menjadi Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad, berpangkat Mayor Jenderal dan terakhir menjabat Kepala Staf Kostrad pada 1998.

Bebaskan WNI

Sepuluh pelaut dari kapal tongkang Anand 12 dan Brahma 12 yang membawa 7 ribu ton batu bara dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, diculik dalam pelayaran menuju Filipina. Pelakunya adalah kelompok pimpinan Abu Sayyaf. Mereka pun meminta tebusan sebesar 50 juta peso jika ingin para ABK itu dibebaskan.

Di tengah isu penyanderaan WNI itu, tiba-tiba nama Kivlan menjadi perhatian, namanya muncul sebagai salah seorang negosiator dan pemegang peran penting dalam upaya pembebasan 10 WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf.

BACA JUGA :  Eggi Sudjana: Saya Tidak Makar, Ini People Power

Perang penting Kivlan sebagaimana diceritakan seorang sumber yang tahu soal operasi tersebut, Kivlan terlibat dalam upaya negosiasi. Di sisi lain, ada tim berbeda yang bergerak juga melakukan upaya pembebasan. Kivlan sudah masuk ke Filipina sejak awal April lalu, bersama seorang staf dan penerjemah.

Kivlan sendiri mengaku kalau ia mendapat bantuan dari Gubernur Sulu Toto Tan di Filipina. Gubernur itu adalah keponakan dari mantan pimpinan The Moro National Liberation Front (MNLF) Nur Misuari. Kivlan mengaku berteman dengan Nur Misuari saat dirinya bertugas di pasukan perdamaian Filipina Selatan tahun 1995-1996. Kala itu Indonesia memang terlibat dalam proses perdamaian di wilayah konflik tersebut.

Kivlan pun secara tegas mengatakan pembebasan 10 WNI tidak melibatkan uang tebusan. Bahkan uang tebusan yang disiapkan perusahaan tempat 10 WNI bekerja tidak dipergunakan.

Hingga akhirnya, 10 WNI itu diturunkan oleh penyandera di luar rumah Gubernur Sulu pada Minggu dini hari. Mengetahui ada orang Indonesia di luar, Gubernur Sulu Toto Tan memasukkan 10 orang itu ke dalam rumah. Gubernur menjamu para sandera dengan makan nasi dengan lauk ikan goreng dan ayam goreng. Setelah itu mereka dibawa ke Provinsi Zamboanga, kemudian diterbangkan ke Jakarta.

Jadi Tersangka Makar

Pada hari Senin, 2 Mei 2016, Mabes Polri melalui Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar mengakui jika pembebasan 10 ABK yang disandera kelompok Abu Sayyaf selama beberapa pekan terjadi berkat adanya negosiasi dan koordinasi yang baik antara Polri, TNI, Kementerian Luar Negeri, mitra di Filipina dan Malaysia, serta bantuan tokoh-tokoh seperti Kivlan Zen.

BACA JUGA :  Beredar SPDP Atas Nama Prabowo Subianto Untuk Kasus Dugaan Makar

Boy menyebut adanya keterlibatan masyarakat, lebih tepatnya tokoh-tokoh yang selama ini memberi perhatian khusus terhadap peristiwa itu dengan berupaya untuk mendapatkan akses komunikasi dengan penyandera, salah satunya yaitu Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen. Menurutnya, upaya pembebasan dengan pendekatan komunikasi ini tidak akan terjadi jika polisi melakukannya sendiri.

Namun kini Kivlan telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan makar oleh Bareskrim Polri, setelah dilaporkan ke Bareskrim Polri atas tuduhan penyebaran hoax dan makar. Laporan bernomor laporan LP/B/0442/V/2019/Bareskrim, diterima polisi pada 7 Mei 2019, yang dilakukan oleh seseorang yang bernama Jalaludin.

Seusai ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan makar, Kivlan disebut menjadi sosok yang memerintahkan pembunuhan terhadap sejumlah pejabat nasional.

Para pejabat yang menjadi target pembunuhan adalah Menteri Koordinantor Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Koordinantor Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala BIN Budi Gunawan, Staf Kepresidenan Gories Mere.

Tak hanya itu, ia juga diklaim para pelaku eksekutor memerintahkan membunuh Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya.

Hal tersebut terungkap dari pengakuan sejumlah tersangka terkait ancaman pembunuhan pejabat yang telah diamankan oleh polisi.

Melalui rekaman video yang diputar di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta pada Selasa (11/6/19), para tersangka mengakui mendapatkan perintah langsung dari Kivlan Zen untuk menghabisi nyawa sejumlah pejabat.

Kivlan juga ditetapkan sebagai tersangka dugaan kepemilikan senjata api ilegal. Atas dugaan kepemilikan senpi ilegal tersebut, Kivlan ditahan polisi selama 20 hari. Kivlan ditahan oleh pihak kepolisian terhitung sejak Kamis (30/5/19). [ipk]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini