Azmi Syahputra Ketua asosiasi ilmuwan praktisi hukum Indonesia(Alpha) Foto : Dok Pribadi

Momentum hari lahirnya pancasila membuat jadi makna hikmah mengurai lembar sejarah perjalanan bangsa sekaligus menghadapi tugas tugas bernegara saat ini, maka menilik sejarah diketahui Bung Karno dan para pendiri bangsa berdialektika yang didorong keinginan luhur serta kejernihan hati, menggali dari nilai nilai yang hidup dan terpendam di Bumi Indonesia yang hasil penggaliannya tersebut, disebutnya Pancasila untuk dijadikan dasar bangsa yang dinamis.

Di era kekinian Pancasila hadir sebagai ruang pemersatu segala perbedaan diantara riuh ombak ideologi lain yang selalu ingin mengabaikan pancasila, segala macam perbedaan dan fenomena masyarakat jika diuji dan didekatkan dengan nilai – nilai pancasila tentunya dengan hati yang jernih (luhur) pasti menjadi solusi, karenanya sila dan nilai – nilai pancasila harus menjadi auto regulator dalam setiap diri manusia Indonesia sekaligus satu kesatuan yang utuh.

Pancasila merupakan berkah yang harus dijaga dan dirawat oleh bangsa Indonesia. Pancasila digali pendiri bangsa ini dan dipersembahkan kepada generasi penerus.

BACA JUGA :  Back To Campus di FH UBK

“Karena Pancasila merupakan dasar bangsa, perekat bangsa,  pemersatu bangsa sekaligus kebanggaan bangsa,” ujarnya.

Azmi menyatakan betapa anugerah Tuhan yang istimewa untuk Indonesia yang punya 17.504 pulau, 714 suku, 1100 bahasa daerah, beragam agama budaya dan kini memiliki penduduk lebih dari 250 juta, ini kekayaan, ini kekuatan bangsa sekaligus semua Perbedaan budaya, agama ini dapat dipersatukan dengan Pancasila dan semua potensi tersebut menjadi modal sosial yang harus dijaga sekaligus sumber energi besar sebuah bangsa.

Pancasila adalah hasil dari sebuah konsensus nasional dari keresahan pendiri bangsa pada waktu itu guna menjawab apa yang menjadi dasar negara serta guna arah tujuan keberlangsungan negara agar negara tentram, akur , damai.

“Inilah yang digali lebih dalam oleh Bung Karno melalui sila-sila yang diuraikan dalam pidatonya tanpa teks pada 1 Juni 1945. Untuk mewujudkan sebuah negeri yang dicitakan citakan, negeri yang merdeka, aman, maju sejahtera, bermartabat dan berketuhanan,” ujar Azmi.

BACA JUGA :  "Kriminalisasi Struktural" atau Victimisasi Struktural

Dosen Fakultas Hukum Universitas Bung Karno ini menambahkan oleh karenanya memohon kebaikan segenap diri anak bangsa kembali menilik sejarah dan meletakkan Pancasila sebagai Philosophische grondslag sekaligus auto regulator karena di atas kelima sila inilah bangsa Indonesia didirikan.

“Pancasila itu harus mengalir dalam denyut nadi setiap diri dan jadi batu uji indikator dalam prilaku manusia Indonesia guna membangun kesadaran hidup berbangsa dan bernegara. Sehingga apapun peristiwa dan fenomena kekinian yang terjadi jika didekatkan dengan pancasila pasti aman, tenang, damai dan selesai serta tujuan bangsa akan mudah tercapai,”

Oleh : Azmi Syahputra, Dosen Fakultas Hukum Universitas Bung Karno

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini