Konferensi Pers Paraindra terkait Hari Lahir Pancasila di kawasan Senayan, Jakarta, Sabtu (1/6/19). (Foto: telusur.co.id)

telusur.co.id – Perayaan Hari Lahir Pancasila merupakan momentum memaknai lahirnya falsafah bangsa Indonesia.

Upaya memaknai lahirnya falsafah bangsa menjadi penting mengingat mulai pudarnya pemahaman kebangsaan pada diri masing-masing individu warga negara.

Begitu disampaikan Ketua Umum Paguyuban Rakyat Indonesia Raya (Paraindra), Rajasa Brotodiningrat saat menggelar jumpa pers di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6/19).

“Dalam interaksi sosial, (Pancasila) tidak ada. 10 tahun lalu masih mengenal gotong royong. Bahkan 15-20 tahun lalu, anak-anak lewat di depan orang tua mengucapkan permisi. Sekarang tidak ada,” kata Rajasa Brotodiningrat.

Menurutnya, pemerintah mempunyai tanggungjawab terbesar untuk mengenalkan Pancasila sejak warga negara berusia dini. Namun, kata dia, pada saat ini, tidak ada yang menjamah dan memberikan pembekalan Pancasila.

BACA JUGA :  Din Syamsuddin:┬áPancasila Harus Jadi Nafas Demokrasi di Indonesia

Bahkan dia menilai, sejumlah politisi tidak mencerminkan tingkah laku etik yang sesuai dengan nilai Pancasila dalam berpolitik. Belakangan, malah mulai secara masif muncul informasi tidak benar atau hoaks hingga penyebaran ujaran kebencian.

Karenanya, dia mengajak semua elemen bangsa untuk membangun negara ini sesuai falsafah Pancasila.

“Saya mengimbau ayo bangun, bergandengan tangan membangun budaya Indonesia sesuai nilai Pancasila. Bukan Indonesia yang hancur,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dewan Pembina Paraindra Agusdin Pulungan mengungkapkan, pemahaman mengenai Pancasila saat ini harus kembali dikuatkan. Menurut dia, sejak Indonesia berdiri, Pancasila telah menyelamatkan bangsa ini.

Oleh sebab itu, dia meminta para politisi memberikan contoh kepada masyarakat untuk menguatkan pemahaman tentang Pancasila.

BACA JUGA :  Pancasila Dan UUD Simbol Negara Bangsa, Negara Membuka Pintu Bagi Syariah, Khilafa & Kalifah Sebagai Ideologi Komplementar

“Bagaimana menguatkan? Contoh pemimpin yang mengejewantahkan sikap Pancasila, pemimpin mencontohkan.
Apabila ada tokoh yang menjadi panutan menyimpang dari Pancasila, maka dia keluar dari cara hidup dan falsafah Pancasila,” ujarnya.

Untuk diketahui, Paraindra adalah wadah masyarakat untuk mewujudkan kedaulatan rakyat secara baik dan benar. Paraindra berpijak pada basis kebudayaan masyarakat Indonesia dalam mengkonsolidasi kedaulatan rakyat maupun dalam memperjuangkan dan merespon semua bentuk pengaruh dunia, juga pengaruh kebijakan politik negara.

Target yang ingin dicapai oleh Paraindra adalah terbentuknya suatu tatanan masyarakat adil dan makmur. Dengan keadilan yang berkemakmuran itulah masyarakat indonesia dengan segala bentuk budayanya akan berperan penting dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Raya di masa depan. (Ham)

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini