Sayuti Asyathri / Ist

Oleh : Sayuti Asyathri

Sebuah peringatan penting bagi para pemimpin yang selalu berpikir bisa menerapkan kekerasan dengan kesombongan pada bangsa lain dan pada rakyatnya sendiri. Mereka merasa lebih unggul secara militer dan ekonomi, maka seolah punya hak untuk menistai bangsa dan negara lain serta manusia dan rakyatnya sendiri dalam kebijakan mereka. Padahal klaim keunggulan itu kini semakin semu dan melorot, ternyata sangat keropos, di panggung kebangkitan bangsa dan negara lain.

intinya adalah berlaku hukum alam yang telah dibukukan sejarah sepanjang zaman bahwa kekuasaan yang didasarkan pada kekerasan di dalam dirinya adalah kegagalan. Rusia di bawah Putin adalah sebuah contoh terbaik tentang bagaimana pembangunan sosial didasarkan pada nilai nilai kultural dan sejarah. Dia sangat keras terhadap kekerasan bersenjata atas nama agama atau keyakinan apapun tetapi tidak menjadikan penggunaan simbol agama, khususnya Islam, sebagai suatu trauma yang mendorongnya untuk membuat label label tuduhan pada mereka sebagai alat untuk kepentingan politiknya atau sebagai alasan untuk menjual negaranya di bawah kaki asing.

BACA JUGA :  Prancis Tunggu Bukti Kuat Sebelum Menentukan Sikap Terkait Serangan Racun Terhadap Mata-mata di Inggris

Tidak seperti itu, karena Putin membangun hubungan bermartabat dengan negara dan bangsa lain dalam kedudukan mitra yang setara, bukan sebagai budak terhadap majikan. Bahkan, Chechnya setelah mengalami kehancuran, dibangun kembali dengan kondisi yang sangat jauh lebih baik. Warga Rusia secara keseluruhan diberikan kesempatan mengembangkan agama dan tradisi budayanya dalam suatu kerangka yang harmonis dan progressif.

Pemimpin yang mengerahkan anak bangsanya untuk saling curiga dalam permusuhan, apalagi untuk melayani asing dan penjajahan, tidak lain hanyalah mengantarkan bangsanya ke jurang kebangkrutan dan kehinaan. Apalagi Putin menjaga dengan sangat kedaulatan negaranya, selalu menunjukkan kepribadian otentik, dalam langgam mengayomi dan kalau berhubungan dengan komunitas agama dan kelompok sosial, dilakukannya dengan cinta dan ketulusan. Sebuah kepemimpinan yang di dalam dirinya secara niscaya mengukir kejayaan bagi bangsanya dan kemanusiaan.[***/gus].

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini