telusur.co.id – Ribuan orang berkumpul di Hong Kong dalam rangka pawai memprotes hukum ekstradisi yang diusulkan dan mengizinkan tersangka dikirim ke Cina untuk diadili.

Kepala kepolisian meminta masyarakat menahan diri. Polisi akan mengerahkan lebih dari 2.000 personil untuk menghadapi pawai yang diperkirakan penyelenggara diikuti oleh lebih dari 500.000 orang.

Itu akan membuatnya jadi pertemuan terbuka terbesar sejak kegiatan serupa dilaksanakan pada 2003 untuk menantang rencana pemerintah bagi peraturan keamanan nasional yang lebih ketat, tapi belakangan dibekukan.

Penentangan terhadap rancangan peraturan yang diusulkan itu telah menyatukan banyak anggota masyarakat, dari orang yang biasanya pro-kemapanan dan pengacara sampai pelajar, tokoh pro-demokrasi dan kelompok agama.

BACA JUGA :  Indonesia Ajak Cina Berkolaborasi dalam Konsep Indo-Pasifik

“Saya datang ke sini semalam,” kata seorang lelaki, 87 tahun, yang menggunakan kursi roda, dengan nama keluarga Lai, dilansir dari Reuters, Minggu (9/6/19).

Laki-laki itu termasuk di antara orang yang pertama tiba di Victoria Park sebelum dimulainya pawai pada pukul 15.00 waktu setempat (14.00 WIB).

“Ini mungkin tak berguna, tak peduli berapa banyak orang yang ada di sini. Kami memiliki cukup kekuatan untuk melawan sementara Pemerintah Hong Kong didukung oleh China Daratan,” kata Lai, yang menderita penyakit Parkinson.

Pawai itu diperkirakan secara perlahan bergerak menuju Causeway Bay, yang penuh pengunjung, dan pertokoan Wanchai serta daerah permukiman hingga Parlemen Hong Kong, tempat perdebatan akan dimulai pada Rabu mengenai perubahan oleh pemerintah bagi Fugitive Offenders Ordinance.[Tp]

Like :

LEAVE A REPLY

Silahkan masukan komentar anda
Silahkan masukan nama anda disini